Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Gojek Targetkan 100 Persen Armadanya Pakai Kendaraan Listrik pada 2030

Gojek, sebagai bagian dari Grup GoTo mengaku berkomitmen “Zero Emissions” (Nol Emisi Karbon) yaitu menjadi platform karbon-netral dan menargetkan armadanya 100 persen kendaraan listrik di 2030 mendatang.
Ahmad Thovan Sugandi
Ahmad Thovan Sugandi - Bisnis.com 23 Februari 2022  |  06:17 WIB
PT Gojek Indonesia menggandeng PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) membentuk perusahaan patungan atau joint venture (JV) ekosistem motor listrik bertajuk Electrum, Kamis (18/11 - 2021).
PT Gojek Indonesia menggandeng PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) membentuk perusahaan patungan atau joint venture (JV) ekosistem motor listrik bertajuk Electrum, Kamis (18/11 - 2021).

Bisnis.com, JAKARTA - Electrum, perusahaan patungan Gojek dan TBS Energi Utama (TBS), bersama Pertamina, Gogoro, dan Gesits, bersinergi untuk mengakselerasi pengembangan ekosistem kendaraan listrik terintegrasi.

Hal itu juga diklaim sejalan dengan isu prioritas yang dibawa Pemerintah Indonesia dalam G20 Summit, salah satunya terkait transisi energi yang berkelanjutan, termasuk percepatan pengembangan ekosistem kendaraan listrik.

Electrum bersama dengan Pertamina, Gogoro, dan Gesits memperkuat sinergi melalui komitmen bersama untuk terus melanjutkan kolaborasi dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik.

Pengukuhan komitmen bersama dan kolaborasi tersebut dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia, dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif.

Dalam sambutannya, Presiden Jokowi menghargai keberanian perusahaan yang berkolaborasi hari ini untuk mengembangkan ekosistem kendaraan listrik dari hulu ke hilir.

“Pemerintah sangat serius untuk masuk pada energi baru terbarukan termasuk menuju pada kendaraan listrik. Kita harapkan sesuai dengan target kita di 2030 untuk emisi karbon berada di angka 29 persen, dan di 2060 masuk ke emisi nol atau net zero carbon," ujarnya, Selasa (22/2/2022).

Menandai pengukuhan komitmen dan kolaborasi ini, Electrum, Pertamina, Gogoro, dan Gesits akan memperluas uji coba komersial penggunaan kendaraan listrik roda dua yang akan terus dikembangkan secara bertahap hingga ribuan unit di sepanjang 2022.

Hasil uji coba akan dimanfaatkan antara lain sebagai landasan rencana bisnis Electrum. Perusahaan gabungan Gojek dan TBS ini sudah memiliki rencana membangun manufaktur motor listrik, teknologi pengemasan baterai, infrastruktur penukaran baterai, dan pembiayaan untuk memiliki kendaraan listrik.

Kolaborasi tersebut juga akan memanfaatkan masing-masing keahlian dari keempat perusahaan untuk makin mendorong pengembangan infrastruktur kendaraan listrik di Indonesia.

Electrum akan bertindak sebagai integrator dan pengembang ekosistem kendaraan listrik, dengan memanfaatkan kehadiran Gojek di Indonesia dan keahlian TBS di sektor energi.

Sementara, Pertamina lewat Pertamina Patra Niaga akan menyediakan stasiun penukaran baterai motor listrik di berbagai SPBU yang tersebar di kawasan Jakarta Selatan. Hal ini didukung oleh Gogoro sebagai penyedia inovasi teknologi penukaran baterai dan motor listrik, dan Gesits menyediakan motor listrik beserta infrastrukturnya.

Gojek, sebagai bagian dari Grup GoTo mengaku berkomitmen “Zero Emissions” (Nol Emisi Karbon) yaitu menjadi platform karbon-netral dan menargetkan armadanya 100 persen kendaraan listrik di 2030 mendatang. Komitmen Gojek tersebut diklaim sesuai dengan satu dari tiga prioritas G20 tahun ini yakni transisi energi.

Sebelumnya, Gojek bersama Electrum dan Pertamina telah melakukan uji coba komersial tahap satu motor listrik. Hasilnya, pemanfaatan motor listrik dapat diterima dengan baik oleh mitra driver dan konsumen.

Di sisi mitra driver, mereka bisa melakukan penghematan biaya operasional hingga 30 persen atau mencapai Rp500 ribu sampai dengan Rp700 ribu dalam sebulan. Lebih dari itu, mitra driver dan konsumen juga merasa motor listrik lebih nyaman karena memiliki tarikan yang lebih halus dan tanpa suara bila dibandingkan dengan motor berbahan bakar minyak.

Direktur Electrum dan CEO serta Co-Founder Gojek Kevin Aluwi menyebut, adopsi motor listrik dipandang tepat untuk Indonesia, karena penggunaan motor lebih banyak dibandingkan mobil. "Dengan uji coba komersial motor listrik untuk digunakan oleh mitra driver Gojek, kami bisa mendapatkan berbagai masukan dari mitra driver dan penumpang atau konsumen, dan kami manfaatkan untuk menjadi landasan rencana bisnis Electrum ke depannya," ujarnya.

Kevin mengatakan saat ini Gojek mengoperasikan 500 motor listrik dan pada akhir 2022 ditargetkan sudah mencapai ribuah. Selain di Indonesia, ke depan Gojek juga berencana menghadirkan motor listrik di Vietnam.

Kevin mengatakan, setelah dilakukan uji coba, motor listrik terbukti memiliki biaya operasional yang lebih murah. Biaya operasional mitra pengemudi diklaim turun 30 persen dan tiap bulannya mampu menghemat Rp500.000 - Rp700.000.

"Saat ini hanya ada di Jakarta Selatan, dalam beberapa minggu ke depan akan ekspansi ke seluruh Jakarta dan mungkin di bulan-bulan ke depan juga ke beberapa kota lain," ujar Kevin.

Untuk saat ini para pengemudi yang menggunakan kendaraan listrik dikenakan biaya 30 ribu per hari. Tiap motor dibekali 2 baterai dengan 1 baterai berfungsi sebagai cadangan, sedangkan dengan daya 100 persen satu baterai mampu menempub jarak 50-60 kilometer.

Ketika baterai habis, para pengemudi dapat singgah di SPBU yang telah dilengkapi penampungan baterai dan menukar baterai yang habis dengan yang telah terisi daya. Adapun baterai yang ditukar akan langsung otomatis terisi.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menyebut, perusahaannya terus melakukan perluasan jaringan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (Battery Charging Station) dan stasiun penukaran baterai kendaraan listrik (Battery Swapping Station).

"Pertamina memahami kebutuhan para pengendara motor listrik, yaitu kecepatan dan kemudahan, sehingga kami menyediakan Battery Swapping Station atau stasiun penumaran baterai," ujarnya.

Nicke mengatakan, dengan bisnis model seperti ini, Indonesia juga berpeluang untuk mengembangkan baterai motor listrik standar Indonesia, sehingga ke depan, harga motor listrik dapat lebih terjangkau.

Pertamina mengaku aktif mengembangkan infrastruktur kendaraan listrik. Setelah membangun 6 lokasi charging station, Pertamina melalui PT Pertamina Patra Niaga sebagai Subholding Commercial & Trading saat ini telah resmi mengoperasikan 14 unit Battery Swapping Station dengan 212 baterai yang tersebar di 7 lokasi Green Energy Station (GES) Pertamina.

"Tahun depan kami targetkan bisa mencapai 5000 fasilitas penukaran baterai, dengan kemampuan pengisian daya tiap baterai 2-3 jam. Namun para pengemudi tidak perlu menunggu, karena bisa langsung ditukar dengan yang sudah terisi," ujarnya.

Sebagai informasi, Green Energy Station (GES) Pertamina adalah SPBU yang tenaga kelistrikannya diperoleh dari panel surya. Nicke mengatakan, saat ini Pertamina sudah memiliki 143 SPBU yang menggunakan energi matahari untuk kelistrikan di dalam SPBU, dan tahun ini ditargetkan mencapi 1000 GES.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gojek Kendaraan Listrik Transisi energi
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top