Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Terbebani Nilai Tukar Dolar AS, Importir Sebut Kebijakan LCS Tidak Jalan

Importir mengungkapkan produsen dari negara asal cenderung memilih Dolar AS untuk melakukan transaksi ketimbang uang lokal atau memakai skema LCS.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 17 Februari 2022  |  12:07 WIB
Petugas menunjukkan mata uang dolar AS dan rupiah di Money Changer, Jakarta, Senin (19/4/2021). Bisnis - Fanny Kusumawardhani
Petugas menunjukkan mata uang dolar AS dan rupiah di Money Changer, Jakarta, Senin (19/4/2021). Bisnis - Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA— Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) menuturkan perjanjian transaksi lewat mata uang lokal atau local currency settlement (LCS) Indonesia bersama dengan China, Jepang, Malaysia dan Thailand tidak berjalan efektif.

Wakil Ketua Umum Bidang Logistik dan Kepelabuhanan BPP GINSI Erwin Taufan mengatakan produsen dari negara asal cenderung memilih Dolar Amerika Serikat untuk melakukan transaksi ketimbang uang lokal.

Konsekuensinya, kata Erwin, kegiatan impor bahan baku untuk industri dari negara asal itu masih terbebani nilai tukar Dolar Amerika Serikat yang relatif tinggi akibat fluktuasi harga komoditas global. Sementara, biaya pengapalan hingga kontainer masih menggunakan Dolar Amerika Serikat.

“Kita terbebani sekali apalagi beberapa ratus juta dolar [Amerika Serikat] yang tidak fair dengan pelayaran selisihnya lebar sekali kalau kita mau ambil delivery order [DO], beda kursnya saja sudah jauh sudah mengambil untung di situ kan berarti kita dikangkangi juga dengan aturan itu,” kata Erwin melalui sambungan telepon, Rabu (16/2/2022).

Erwin menuturkan kebijakan LCS itu tidak berjalan efektif lantaran negara asal cenderung memilih transaksi lewat Dolar Amerika Serikat ketimbang mata uang lokal. Artinya, kata dia, nilai tukar rupiah cenderung lemah atas Dolar Amerika Serikat di tingkat perdagangan internasional.

“Seberapa jauh kekuatan LCS kita terhadap mata uang asing yang dominan, karena sistem kita saja belum punya kekuatan karena kontrak kita masih dikontrol negara asal selama ini mereka tidak mau pakai uang rupiah,” tuturnya.

Di sisi lain, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia atau Apindo Hariyadi B. Sukamdani mengatakan pemanfaatan mata uang lokal atau Local Currency Settlement (LCS) untruk transaksi bilateral mengalami peningkatan yang pesat sepanjang 2021. Menurut Hariyadi, peningkatan itu disebabkan karena volume dan nilai transaksi dagang Indonesia dengan China terbilang besar pada tahun lalu.

“Dengan China ini naik luar biasa karena smelter sudah jalan produk nilai tambahnya sudah besar di sana sehingga defisit tahun lalu itu hanya US$2,4 miliar dari sebelumnya besar sekali mencapai US$30-an miliar,” kata Hariyadi dalam diskusi Finance Track Side Events G20, Rabu (16/2/2022).

Adapun pemanfaatan LCS menunjukkan perkembangan yang signifikan sejalan dengan perluasan dan penguatan kerjasama transaksi mata uang lokal tersebut setiap tahunnya. Total transaksi LCS mencapai setara US$2,53 miliar pada 2021. TOrehan itu mengalami peningkatan dari posisi setara US$797 juta pada 2020.

Perkembangan transaksi LCS itu didorong oleh kontribusi signifikan transaksi antara Indonesia-Jepang dengan nilai setara US$95 juta dan Indonesia-China mencapai US$128 juta pada tahun lalu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dolar as importir ginsi LCS (Local Currency Settlement)
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top