Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Transaksi LCS Melesat, Apindo: Didorong China Berkat Proyek Smelter

Pemanfaatan LCS menunjukkan perkembangan yang signifikan sejalan dengan perluasan dan penguatan kerja sama transaksi mata uang lokal tersebut setiap tahunnya.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 16 Februari 2022  |  17:59 WIB
Warga melintas di depan Kantor Cabang Luar Negeri BNI Tokyo. BNI menjadi satu-satunya bank asal Indonesia yang ditunjuk oleh Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan Jepang sebagai Bank Appointed Cross Currency Dealer (ACCD) sehingga dapat melayani Local Currency Settlement (LCS) atau fitur layanan yang memudahkan transaksi antar negara menggunakan mata uang lokal.  -  Dok. BNI
Warga melintas di depan Kantor Cabang Luar Negeri BNI Tokyo. BNI menjadi satu-satunya bank asal Indonesia yang ditunjuk oleh Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan Jepang sebagai Bank Appointed Cross Currency Dealer (ACCD) sehingga dapat melayani Local Currency Settlement (LCS) atau fitur layanan yang memudahkan transaksi antar negara menggunakan mata uang lokal. - Dok. BNI

Bisnis.com, JAKARTA — Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia atau Apindo Hariyadi B. Sukamdani mengatakan pemanfaatan mata uang lokal atau Local Currency Settlement (LCS) untruk transaksi bilateral mengalami peningkatan yang pesat sepanjang 2021.

Menurut Hariyadi, peningkatan itu disebabkan karena volume dan nilai transaksi dagang Indonesia dengan China terbilang besar pada tahun lalu. 

“Dengan China ini naik luar biasa karena smelter sudah jalan produk nilai tambahnya sudah besar di sana sehingga defisit tahun lalu itu hanya US$2,4 miliar dari sebelumnya besar sekali mencapai US$30-an miliar,” kata Hariyadi dalam diskusi Finance Track Side Events G20, Rabu (16/2/2022). 

Adapun, pemanfaatan LCS menunjukkan perkembangan yang signifikan sejalan dengan perluasan dan penguatan kerja sama transaksi mata uang lokal tersebut setiap tahunnya. Total transaksi LCS mencapai setara US$2,53 miliar pada 2021. Torehan itu mengalami peningkatan dari posisi setara US$797 juta pada 2020. 

Perkembangan transaksi LCS itu didorong oleh kontribusi signifikan transaksi antara Indonesia-Jepang dengan nilai setara US$95 juta dan Indonesia-China mencapai US$128 juta pada tahun lalu. 

“Saya melihat khusus dengan China itu sebetulnya sangat potensial untuk CLS ini karena transaksi terbesar komoditas yang ada di dalam kontrol negara seperti sektor pertambangan,” kata dia. 

Menurut dia optimalisasi pemanfaatan mata uang lokal itu bakal mendorong daya saing perdagangan internasional Indonesia. Alasannya, pemanfaatan mata uang lokal bakal mengurangi kerentanan rupiah atau nilai tukar hasil perdagangan dengan dolar Amerika Serikat. 

“Semakin stabil rupiah kita semakin bagus pasti bunga akan lebih efisien yang selalu diomelin orang banyak karena bunga kita mahal, karena salah satu faktornya adalah moneter. Stabilisasi rupiah ini bisa menjadi pegangan kita dan akhirnya inflasi, nilai tukar kita menjadi stabil,” tuturnya. 

Kendati demikian, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekspor nonmigas Indonesia ke China mengalami penurunan sebesar US$1,58 miliar pada Januari 2022. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto menjelaskan, berdasarkan negara tujuan, penurunan ekspor nonmigas ke China merupakan yang terbesar dibandingkan negara lainnya. 

“Penurunan terbesar ke China terjadi untuk komoditas bahan bakar mineral [HS 27] serta lemak dan minyak hewan nabati [HS 15],” katanya dalam konferensi pers virtual, Selasa (15/2/2022).

BPS mencatat salah satu komoditas bahan bakar mineral yang mengalami penurunan yang cukup signifikan adalah batu bara. Secara total, nilai ekspor batu bara pada Januari 2022 tercatat sebesar US$1,07 miliar. 

Adapun, perdagangan Indonesia masih mengalami defisit dengan China sebesar US$2,23 miliar, di mana ekspor ke China mencapai US$3,51 miliar, sementara impor mencapai US$5,84 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Neraca Perdagangan china apindo LCS (Local Currency Settlement)
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top