Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kemenperin: Stok Masker dan APD Aman

Kementerian Perindustrian mengungkapkan stok masker maupun APD masih terbilang aman, walaupun terjadi lonjakan kasus Covid-19, permintaan kedua produk tersebut masih lesu.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 13 Februari 2022  |  13:12 WIB
Sejumlah pekerja di S&R Production tengah membuat Face Shield, Kamis (18/6/2020). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
Sejumlah pekerja di S&R Production tengah membuat Face Shield, Kamis (18/6/2020). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Perindustrian mendata stok masker dan alat pelindung diri (APD) medis dalam posisi surplus dengan permintaan yang belum merangkak naik.

Direktur Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian Elis Masitoh mengatakan belum ada kenaikan utilitas produksi masker dan APD karena permintaan yang masih lesu, meski kini terjadi kenaikan kasus Covid-19 varian Omicron.

"Pada tataran industri masih punya banyak stok APD," kata Elis kepada Bisnis, Jumat (11/2/2022).

Berdasarkan neraca penawaran-permintaan APD dan masker dalam Dashboard Monitoring Alkes (DMA), produksi APD medis sepanjang tahun lalu mencapai 432,90 juta unit, dengan kebutuhan hanya sekitar 14,88 juta unit. Dengan demikian, ada selisih 418,01 juta antara produksi dan permintaan.

Sementara itu untuk jubah operasi medis, total volume produksinya sepanjang 2021 mencapai 228,85 juta unit, dengan permintaan 7,49 juta, sehingga terjadi kelebihan 221,35 juta.

Adapun, produksi masker medis sepanjang 2021 sebesar 4,63 miliar unit, dengan kebutuhan 176,59 juta unit, sehingga terjadi selisih 4,45 miliar unit.

"Produksi coverall, gown, dan masker medis hampir seluruhnya telah mampu diproduksi dan disuplai dari industri dalam negeri. Impor yang masih tinggi terjadi di bahan baku masker/APD dan masker resporator N95 sehingga neraca masih negatif," ujarnya.

Produksi masker respirator N95 sepanjang 2021 sebesar 3,24 juta unit dengan kebutuhan 11,59 juta unit, sehingga terjadi defisit 8,29 juta unit. Bahan baku masker dan APD berupa spundbond dan metblown juga mengalami defisit, dengan produksi dalam negeri 2.250 ton dan kebutuhan 10,87 juta ton.

Elis mengatakan sebagian produsen dalam negeri yang awalnya memproduksi tekstil dan melakukan diversifikasi produksi APD, masker, dan gaun operasi, menghentikan sementara produksinya karena permintaan yang sudah sangat terbatas, stok yang menumpuk, dan ekspor yang juga sudah ketat pasarnya. Selain itu, ekspor juga masih terkendala tingginya biaya pengapalan.

"Bukan hanya untuk APD sebetulnya, tapi untuk TPT [tekstil dan produk tekstil] secara umum, biaya pengapalan dan terbatasnya kontainer masih menjadi kendala," ujarnya.

Sekjen Asosiasi Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta menambahkan permintaan bahan baku masker dan APD ke industri hulu masih belum terjadi lonjakan. Dia memprediksi kondisi ini akan bertahan sepanjang tahun ini, mengingat tingkat keterisian rumah sakit yang masih dalam level aman meski terjadi lonjakan kasus.

"Biasanya kalau ada lonjakan permintaan, demand ke hulunya juga ada. Ini demand biasa saja. Ada demand-nya, tetapi bukan buat masker dan APD," ujar Redma.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tekstil kementerian perindustrian apd masker
Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top