Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pengusaha Baja Lapis Tak Ambisius, Produksi Masih Tertekan Impor

Produsen Baja Lapis Aluminium Seng (BjLAS) meminta pemerintah menekan aliran impor untuk mendukung produksi BjLAS.
Pekerja mengecek lembaran baja di pabrik Sunrise Steel, Mojokerto, Jawa Timur, Kamis (18/2).ANTARA FOTO/Zabur Karuru
Pekerja mengecek lembaran baja di pabrik Sunrise Steel, Mojokerto, Jawa Timur, Kamis (18/2).ANTARA FOTO/Zabur Karuru

Bisnis.com, JAKARTA – Produksi Baja Lapis Aluminium Seng (BjLAS) dalam negeri diprediksi masih akan tertekan impor jika pemerintah tak segera turun tangan.

Ketua Klaster BjLAS Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Henry Setiawan mengatakan impor produk BjLAS sepanjang tahun lalu naik di atas 40 persen, di atas total kenaikan impor produk baja sekitar 20 persen. Dengan kapasitas produksi BjLAS nasional sebesar 1,5 juta ton per tahun, maka produsen dalam negeri seharusnya sudah bisa menutup 90 persen kebutuhan domestik.

Namun, serbuan produk impor menurunkan utilitas produksi industri hingga sekitar 40 persen. Artinya, produksi BjLAS secara nasional pada tahun lalu berada pada kisaran 600.000 ton.

"Sekarang utilitas kami di bawah 50 persen, makanya kami sangat berharap pemerintah bisa mendukung kami [dengan mengendalikan impor]," kata Henry kepada Bisnis, Rabu (9/2/2022).

Pada tahun ini, Henry berharap utilitas kapasitas produksi dapat naik menjadi di atas 50 persen, sehingga volume produksi dapat melampaui 750.000 ton.  

Dengan kondisi derasnya produk impor, Henry yang juga menjabat Presiden Direktur PT Sunrise Steel tidak menargetkan pertumbuhan produksi perseroan terlalu tinggi pada tahun ini. Tahun lalu, realisasi produksi Sunrise Steel diperkirakan mencapai 200.000 ton atau 50 persen dari total kapasitas produksi 400.000 ton.

Pada tahun ini, perusahaan membidik pertumbuhan produksi hingga 250.000 ton. "Kami tidak dalam posisi bisa berharap terlalu besar kecuali ada pengendalian impor yang signifikan. Daya beli katakanlah sama dengan tahun-tahun sebelumnya, tidak ada masalah, asalkan impornya dikendalikan," kata Henry.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Reni Lestari
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper