Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ancaman Omicron hingga Inflasi Bayangi Indeks Keyakinan Konsumen

Ekonom menilai varian Omicron masih menjadi ancaman bagi pemulihan ekonomi serta membayangi indeks keyakinan konsumen (IKK) pada tahun ini.
rnPengunjung berada di dalam mal Grand Indonesia, Jakarta, Rabu (3/11/2021). Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menerbitkan Keputusan Gubernur Nomor 1312 Tahun 2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level satu Covid-19 yang berlaku mulai 2-15 November 2021, salah satunya adalah kapasitas pusat perbelanjaan atau mal diizinkan hingga 100 persen dan beroperasi hingga pukul 22.00 waktu setempat. ANTARA FOTO/Aprillio Akbarrn
rnPengunjung berada di dalam mal Grand Indonesia, Jakarta, Rabu (3/11/2021). Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menerbitkan Keputusan Gubernur Nomor 1312 Tahun 2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level satu Covid-19 yang berlaku mulai 2-15 November 2021, salah satunya adalah kapasitas pusat perbelanjaan atau mal diizinkan hingga 100 persen dan beroperasi hingga pukul 22.00 waktu setempat. ANTARA FOTO/Aprillio Akbarrn

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat indeks keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi terjaga pada level optimis dengan IKK berada pada level 118,3 pada Desember 2021. 

Peningkatan IKK tersebut sejalan dengan peningkatan indeks kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi ekonomi ke depan, meski indeks kondisi ekonomi saat ini belum kembali ke zona optimis.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan IKK perlahan mengalami pemulihan akibat penurunan level PPKM pada kuartal IV/2021. Dari kondisi, terefleksi bahwa pengetatan aktivitas ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah berdampak signifikan pada IKK.

Pada periode yang sama, tercatat proporsi pendapatan masyarakat yang ditabung cenderung mengalami penurunan. Josua menilai hal ini tidak terlepas dari kenaikan inflasi bulanan pada Desember 2021 akibat kenaikan bahan pangan.

“Tidak hanya itu, hal ini juga memberikan sinyal bahwa aktivitas belanja masyarakat cenderung meningkat pada akhir tahun lalu,” katanya kepada Bisnis, Senin (10/1/2022).

Josua memperkirakan, dari cerminan IKK tahun lalu, peningkatan IKK pada 2022 tidak akan setinggi 2021, seiring dengan hambatan dari beberapa sisi.

Dari sisi eksternal, kata dia, varian Omicron masih menjadi ancaman bagi pemulihan ekonomi. Tingginya level penyebaran varian Omicron menurutnya berpotensi mendorong pemerintah untuk meningkatkan level PPKM, terutama jika terjadi peningkatan hospital occupancy ratio.

“Risiko tersebut berpotensi menurunkan IKK, bila melihat peristiwa tahun lalu, meskipun cenderung sementara,” jelasnya.

Sementara itu, Josua memperkirakan tekanan inflasi yang didorong oleh penyesuaian beberapa harga yang diatur pemerintah juga berpotensi membatasi peningkatan IKK.

“Kenaikan PPN serta kenaikan harga diatur pemerintah seperti TDL, BBM non-subsidi diperkirakan mendorong kenaikan inflasi, terutama pada pertengahan 2022. Kenaikan berbagai harga barang tersebut berpotensi akan menekan daya beli masyarakat, terutama kelas menengah,” katanya.

Dengan demikian, imbuhnya, penurunan daya beli akan memengaruhi laju pertumbuhan IKK, dan bahkan berpotensi menurunkan IKK secara sementara. Dia memperkirakan IKK pada 2022 akan mencapai kisaran 118 hingga 125.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper