Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kinerja 2021 Belum Optimal, Pengusaha Pacu Volume Ekspor pada 2022

Para eksportir sejatinya telah membidik volume ekspor yang melampaui realisasi capaian sebelum pandemi pada 2021.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 30 Desember 2021  |  14:57 WIB
Kinerja 2021 Belum Optimal, Pengusaha Pacu Volume Ekspor pada 2022
Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku usaha membidik volume ekspor pada produk manufaktur yang lebih besar pada 2022. Kinerja pada 2021 dinilai belum optimal meski terdapat peluang kesenjangan antara tingginya permintaan dan pasokan yang masih terbatas.

Koordinator Wakil Ketua Umum III Kadin Indonesia bidang Maritim, Investasi, dan Luar Negeri Shinta W. Kamdani mengatakan para eksportir sejatinya telah membidik volume ekspor yang melampaui realisasi capaian sebelum pandemi pada 2021.

Namun tantangan daya saing ekspor masih belum terurai di tengah kebijakan pembatasan, dukungan pembiayaan yang terbatas, dan kenaikan bahan baku akibat krisis logistik global masih membayangi optimisme tersebut.

“Justru target kami volume ekspor melampaui sebelum pandemi di seluruh produk komoditas maupun nonkomoditas. Kami melihat rebound dan pertumbuhan perdagangan global jauh lebih cepat dari perkiraan,” katanya, Kamis (30/12/2021).

Kesenjangan antara permintaan dan pasokan barang di negara destinasi ekspor seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, dan China disebut Shinta merupakan peluang sepanjang 2021. Hal ini mengingat stimulus yang diguyur oleh pemerintah negara-negara tersebut sangat besar dan mayoritas untuk mengerek konsumsi.

“Ini sudah menjadi incaran eksportir nasional, khususnya yang ekspor komoditas. Untuk manufaktur masih terbatas meskipun pelaku sektornya terus membidik,” kata Shinta.

Shinta berharap normalisasi perdagangan pada 2022 bisa mengantarkan ekspor manufaktur bernilai tambah seperti komponen elektronik, komponen permesinan, furnitur, garmen, sepatu, dan otomotif ke volume yang lebih besar.

Adapun untuk komoditas, Shinta memperkirakan para eksportir tetap akan menikmati kenaikan volume ekspor karena harga dan permintaan yang relatif stabil sampai pertengahan 2022. Tetapi, normalisasi permintaan dan pasokan bakal memicu perlambatan pertumbuhan untuk ekspor berbasis komoditas.

Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO mencatat volume perdagangan dunia mengalami penurunan 0,8 persen pada kuartal III/2021 dibandingkan dengan kuartal II/2021. Meski demikian, volume perdagangan barang pada kurun Januari sampai September 2021 telah melampaui kinerja pada 2020, bahkan lebih tinggi daripada 2019 sebelum pandemi melanda.

WTO melaporkan ekspor barang Indonesia tumbuh 33 persen pada Januari sampai September 2021 jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019.

Dari sisi volume, indeks volume pada kuartal III/2021 mencapai 167,3 dan meningkat daripada indeks pada kuartal II/2021 di angka 161,2 dan lebih tinggi daripada kuartal III/2020 di angka 148,5 dan di kuartal III/2019 di angka 155,1. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor pemulihan ekonomi omicron
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top