Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Menperin Beberkan Kunci Manufaktur Bertahan di Tengah Covid-19

Geliat manufaktur pada tahun ini dapat dilihat dari sejumlah indikator seperti realisasi investasi, capaian ekspor, kontribusi pajak, kontribusi terhadap PDB, dan peringkat purchasing managers' index (PMI).
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 29 Desember 2021  |  18:36 WIB
Menperin Beberkan Kunci Manufaktur Bertahan di Tengah Covid-19
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. - Kementerian Perindustrian
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Proses pemulihan yang kondusif di industri manufaktur tak terlepas dari kebijakan Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI) yang memungkinkan pelaku industri beroperasi penuh di masa pandemi.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan IOMKI merupakan bagian dari kebijakan rem dan pemerintah di masa pandemi, antara lain untuk menyeimbangkan aktivitas ekonomi dan penanganan pandemi.

"Kebijakan gas dan rem di sektor industri manufaktur diturunkan dalam wujud kebijakan IOMKI yang dikeluarkan oleh Kemenperin," kata Agus dalam konferensi pers, Rabu (29/12/2021).

Seiring waktu, kebijakan IOMKI mendorong terciptanya keseimbangan antara kepentingan kesehatan dan kepentingan ekonomi di sektor industri manufaktur. Kebijakan itu juga memacu para pelaku industri untuk percaya diri dan segera beradaptasi dengan kondisi pandemi.

"Keseimbangan, kepercayaan diri, dan daya adaptasi ini yang membentuk resiliensi yang baik di sektor industri manufaktur dalam menghadapi situasi pandemi," jelasnya.

Geliat manufaktur pada tahun ini dapat dilihat dari sejumlah indikator seperti realisasi investasi, capaian ekspor, kontribusi pajak, kontribusi terhadap PDB, dan peringkat purchasing managers' index (PMI).

Sepanjang Januari-September 2021, realisasi investasi di sektor manufaktur tercatat sebesar Rp236,79 triliun, naik 17,3 persen dibandingkan dengan periode yang sama 2020 sebesar Rp201,87 triliun.

Dari sisi capaian nilai ekspor, kontribusi sektor industri manufaktur terus meningkat meski di tengah himpitan pandemi. Nilai ekspor industri manufaktur pada Januari-November 2021 mencapai US$160 miliar atau berkontribusi sebesar 76,51 persen dari total ekspor nasional. Angka ini telah melampaui capaian ekspor manufaktur sepanjang 2020 sebesar Rp131 miliar, dan bahkan lebih tinggi dari capaian ekspor 2019.

Adapun dari aspek kontribusi terhadap PDB, industri manufaktur pada triwulan III/2021 menyumbang 17,33 persen, tertinggi di antara sektor ekonomi lainnya.

Sempat tertekan hingga -2,52 persen pada 2020, pertumbuhan sektor industri manufaktur kembali bergairah pada 2021, di mana angka pertumbuhannya meningkat signifikan di triwulan II/2021 sebesar 6,91 persen (y-o-y), sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang juga bangkit sebesar 7,07 persen (y-o-y).

"Seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian nasional, kami menargetkan pertumbuhan industri manufaktur sebesar 4-4,5 persen pada 2021 ini, dan sebesar 4,5-5 persen pada 2022,” ungkapnya.

Sejalan hal tersebut, nilai ekspor industri manufaktur ditargetkan pada kisaran US$170 miliar hingga US$175 miliar pada 2021, dan akan mencapai US$175 miliar hingga US$180 miliar pada 2022.

Adapun, nilai investasi Agus menargetkan sebesar Rp280 triliun hingga Rp290 triliun pada 2021, dan sebesar Rp300 triliun–Rp310 triliun 2022.

"Kami juga menargetkan penyerapan tenaga kerja sebanyak 20,84 juta orang di tahun 2022," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur kementerian perindustrian
Editor : Muhammad Khadafi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top