Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

FEB UI Ungkap Pemicu Rendahnya Dampak Investasi Luar Jawa dan Bali

Terkait dengan sebaran investasi, saat ini porsi penanaman modal yang ada di Jawa dan luar Jawa sudah sama atau seimbang. Pada kuartal III/2021, investasi di Jawa yaitu 48,1 persen dan di luar Jawa sebesar 51,9 persen.
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 28 Desember 2021  |  10:09 WIB
FEB UI Ungkap Pemicu Rendahnya Dampak Investasi Luar Jawa dan Bali
Aktifitas pembangunan gedung apartemen di Jakarta, Sabtu (6/6/2020). Bisnis - Dedi Gunawan
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Hasil kajian Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) menunjukkan bahwa dampak investasi di Jawa-Bali terhadap perekonomian daerah merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia.

Dampak investasi yang lebih rendah terhadap perekonomian di daerah luar Jawa erat kaitannya dengan masih rendahnya ekosistem atau rantai pasok yang belum terbangun. Contohnya, yaitu kesediaan tenaga kerja.

Kendati demikian, dengan alasan yang sama, investasi di luar Jawa-Bali bisa memberikan dampak positif lebih besar terhadap daerah Jawa-Bali, dibandingkan dengan sebaliknya.

"Ini justru sebaliknya, dengan ditaruhnya investasi di Jawa, yang dapat Jawa saja karena ekosistem sudah terbangun. Rantai pasoknya sudah jadi. Kalau investasi di luar Jawa, maka yang di Jawa [dan daerah lain] pun kebagian," jelas Dekan FEB UI Teguh Dartanto pada webinar, Senin (27/12/2021).

Dari kajiannya, Teguh mencatat dampak investasi tertinggi terhadap perekonomian daerah berada di pulau Jawa yaitu Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Banten. Dia melihat bahwa rata-rata daerah yang memiliki dampak investasi tinggi terhadap perekonomian daerah, sudah memiliki rantai pasok.

"Ini juga bisa dijadikan kebijakan nantinya. Daerah yang ingin mengoptimalkan dampak investasi, harus membangun rantai pasok itu," kata Teguh.

Tingkat persediaan tenaga kerja di Jawa merupakan salah satu yang tinggi. Staf Ahli Bidang Ekonomi Makro Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indra Darmawan menyebut bahwa terdapat daerah tertentu, khususnya di luar Jawa, yang masih mendatangkan tenaga kerja dari Jawa.

Indra mencontohkan persediaan tenaga kerja di Sulawesi Utara sekitar tiga tahun lalu, ketika adanyan lonjakan kedatangan wisatawan dari China dan Jepang. Pada saat itu, jelasnya, daerah masih mendatangkan tenaga kerja dari Jawa untuk menjadi supir, koki, dan lain-lain.

"Itu kelihatan, ternyata memang naiknya sektor pariwisata di suatu daerah memberikan dampak ke daerah lain. Oleh sebab itu daerah jadi berpikir di mana letak kekurangan mereka, dan akhirnya memprioritaskan untuk mengatasi di sektor atau bidang tertentu," jelasnya pada kesempatang yang sama.

Adapun, terkait dengan sebaran investasi, saat ini porsi penanaman modal yang ada di Jawa dan luar Jawa sudah sama atau seimbang. Pada kuartal III/2021, investasi di Jawa yaitu 48,1 persen dan di luar Jawa sebesar 51,9 persen.

Pada periode Januari-September 2021, porsi investasi juga tersebar secara seimbang antara Jawa (48,3 persen), dan juga luar Jawa (51,7 persen).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi rantai pasok fakultas ekonomi dan bisnis universitas indonesia
Editor : Hadijah Alaydrus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top