Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kajian UI: Dampak Ekonomi dari Realisasi Investasi Capai Rp1.096 Triliun

Kajian FEB UI menyebutkn dampak ekonomi yang dihasilkan dari kegiatan investasi itu, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencapai lebih dari Rp1.096,31 triliun.
Gedung Kementerian Investasi/BKPM di Jakarta. Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Gedung Kementerian Investasi/BKPM di Jakarta. Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) melakukan kajian terhadap dampak realisasi penanaman modal atau investasi kuartal I/2021 sampai dengan kuartal III/2021 terhadap perekonomian nasional.

Adapun, Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat bahwa realisasi investasi selama periode tersebut mencapai Rp659,47 triliun atau 73,3 persen dari target Rp900 triliun.

Dekan FEB UI Teguh Dartanto menyampaikan bahwa dampak initial dari investasi merupakan angka realisasi yang hampir mencapai Rp660 triliun itu. Akan tetapi, dampak kegiatan ekonomi yang dihasilkan dari kegiatan investasi itu, baik secara langsung maupun tidak langsung, mencapai Rp1.096,31 triliun.

Total dampak terhadap output investasi itu terbagi menjadi dampak langsung sebesar Rp279,83 triliun, dan dampak tidak langsung sebesar Rp157,02 triliun.

"Jadi, secara total Rp660 triliun [dibulatkan] itu kalau secara total dalam perekonomian itu menjadi Rp1.096,31 triliun. Artinya ada tambahan mendekati Rp400 triliun, yang merupakan tambahan aktivitas perkonomian," jelas Teguh pada webinar, Senin (27/12/2021).

Teguh mengatakan, sebagai akademisi, dia selalu mempertanyakan apa dampak dari angka realisasi investasi yang diungkapkan secara berkala oleh otoritas investasi. Dampak yang dimaksud adalah dampak terhadap perekonomian secara luas seperti penciptaan kesempatan kerja dan perekonomian daerah.

Oleh sebab itu, dia melakukan kajian seterusnya dari investasi yaitu dampak langsung dan tidak langsung. Contohnya, investasi pada pabrik ban. Dampak langsung dari kegiatan tersebut merupakan bahan baku dan tenaga kerja sektor industri yang terserap.

Lalu, dampak tidak langsung merupakan sistem pendukung dari kegiatan produksi di awal, seperti transportasi. "Semua orang yang kerja di industri, itu butuh makan dan transportasi. Itu kita hitung juga. Ada suppporting system-nya. Misal kalau ada industri, ada kos-kosan dan warteg," terangnya.

Menurut Teguh, hingga saat ini Kementerian Investasi/BKPM hanya mencatat atau merekam realisasi investasi hingga dampaknya secara langsung saja.

Staf Ahli Bidang Ekonomi Makro Kementerian Investasi/BKPM Indra Darmawan menyampaikan dengan adanya kajian dari FEB UI ini, maka ke depannya pengungkapan capaian realisasi investasi secara kuartalan yang biasanya dilakukan, akan ikut menyertakan dampaknya secara tidak langsung juga.

Dia memastikan agar ke depannya kementerian yang belum genap setahun ini akan mulai menerapkan pendalaman dampak realisasi investasi terhadap ekonomi secara luas.

"Biasanya yang disampaikan [hanya] secara absolut, realisasi sekian dari negara ini. Tapi, interaksi antar sektor tidak kelihatan. Contohnya, pabrik alas kaki dari Taiwan di Cianjur. Itu 3.000 [karyawan] orang di situ. Mereka pasti butuh makan dan lain-lain. Itu kalau digarap [kegiatan ekonominya], bisa menghidupi perekonomian lokal," jelas Indra pada acara yang sama.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dany Saputra
Editor : Azizah Nur Alfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper