Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Korporasi AS Tahan Penerbitan Utang pada 2022

Obligasi korporasi yang beredar akan semakin sedikit sehingga bisa membantu menjaga premi risiko atau imbal hasil pada aset yang lebih berisiko.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 21 Desember 2021  |  07:23 WIB
Ilustrasi OBLIGASI. Bisnis - Abdullah Azzam
Ilustrasi OBLIGASI. Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Korporasi AS diperkirakan akan menahan penerbitan utang pada tahun depan. Hal ini menjadi kesempatan bagi pasar berperingkat tinggi yang menghadapi beragam risiko pada 2022 karena pasokan yang lebih rendah ditambah dengan permintaan yang kuat dapat membantu mempertahankan valuasi.

Dilansir Bloomberg pada Minggu (19/12/2021), sejumlah analis memproyeksikan bahwa penerbitan akan menurun sekitar 5 - 10 persen pada 2022 dibandingkan dengan tahun ini senilai US$1,4 triliun.

Dengan demikian, obligasi korporasi yang beredar akan semakin sedikit sehingga bisa membantu menjaga premi risiko atau imbal hasil pada aset yang lebih berisiko yang sudah rendah menurut standar historis.

Penurunan penerbitan dan permintaan yang kuat akan melawan dampak risiko pandemi dan kenaikan suku bunga pada pasar yang nilainya mencapai US$7 triliun ini.

Imbal hasil obligasi yang meningkat dapat memukul obligasi korporasi dengan sangat keras, karena sensitivitas harga mereka terhadap pergerakan ini mendekati level tertinggi sepanjang masa.

"Kami memperkirakan arus masuk yang konsisten, pasokan turun, dan tahun yang cukup baik untuk pencairan. Ketika Anda menggabungkan semua hal itu, itu seharusnya cukup untuk menahan spread dengan cukup baik," ujar Kepala Pasar Modal AS di UBS Group AG.

Ahli strategi Bank of America Corp., dan Barclays Plc., juga memperkirakan spread akan tetap dalam jangkauan pada tahun depan. Rata-rata spread sekarang hanya di bawah 1 persen, menurut data indeks Bloomberg.

Penjualan obligasi dipenuhi dengan permintaan yang masih relatif kuat. Investor telah membanjiri uang kepada obligasi korporasi berperingkat tinggi dalam 43 dari 50 pekan tahun ini, menurut data dari Refinitiv Lipper. Mereka sering mencari hasil yang lebih tinggi daripada Treasury.

Sementara itu, bank sentral di dunia mengambil langkah untuk memotong penurunan likuiditas dalam sistem keuangan. Federal Reserve telah memproyeksikan akan adanya serangkaian kenaikan suku bunga dalam beberapa tahun ke depan, termasuk 3 kali pada 2022.

Namun, hal itu bisa menarik lebih banyak investor asing yang menjadi sumber permintaan untuk membeli obligasi korporasi pada 2022.

"Bahkan jika suku bunga naik 50 atau 100 basis poin, [obligasi korporasi] masih tetap menarik baik dalam nominal dan basis riil," ujar Wakil Kepala Pasar Peringkat Investasi Global Deutsche Bank AG Marc Fratepietro.

Selain itu, kekuatan neraca, biaya modal yang rendah, dan minat melakukan merger dan akuisisi (M&A) akan terus menggerakkan pasar pada tahun depan.

Di samping itu, obligasi yang diterbitkan perusahaan dengan neraca berperingkat investasi, leverage yang rendah dan kas yang besar akan tetap kuat.

"Perusahaan sedang dalam kondisi yang bagus. Meski perekonomian melambat dan The Fed menaikkan suku bunga secara progresif, kami pikir korporasi berada dalam kondisi yang jauh lebih baik untuk menanganinya," ungkap Kepala Peringkat Investasi Amerika Utara Invesco Ltd., Matt Brill.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

utang investor Aksi Korporasi
Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top