Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bank Sentral China Suntik Rp1.130 Triliun ke Pasar

People's Bank of China(PBOC) menyuntikkan uang tunai senilai 500 miliar yuan (US$78,5 miliar) ke dalam sistem keuangan. Sebagian juga untuk mengimbangi pinjaman jangka menengah senilai 950 miliar yuan (US$149,26 miliar) yang jatuh tempo pada Rabu.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 15 Desember 2021  |  23:59 WIB
Seorang pejalan kaki melewati depan Gedung People's Bank of China -  Bloomberg
Seorang pejalan kaki melewati depan Gedung People's Bank of China - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Bank sentral China memperbarui sebagian dari pinjaman polis yang akan jatuh tempo bulan ini setelah bank sentral memangkas syarat rasio wajib minimum untuk mendukung perekonomian.

Dilansir Bloomberg pada Rabu (15/12/2021), People's Bank of China(PBOC) menyuntikkan uang tunai senilai 500 miliar yuan (US$78,5 miliar) ke dalam sistem keuangan. Sebagian juga untuk mengimbangi pinjaman jangka menengah senilai 950 miliar yuan (US$149,26 miliar) yang jatuh tempo pada Rabu.

Suku bunga pinjaman dipertahankan di level 2,95 persen hingga bulan ke-20. Saat ini perhatian tertuju pada tinjauan PBOC tentang suku bunga pinjaman pada pekan depan sebagai tolok ukur de facto untuk pinjaman baru.

"Rasanya seperti respons terukur yang sama dari PBOC. Pelaku pasar sekarang sedang mengamati kapan pergerakan suku bunga pada fasilitas pinjaman jangka menengah atau suku bunga dasar yang akan akan terjadi," ujar ahli strategi DBS Bank Ltd., Eugene Leow di Singapura.

Keputusan ini sesuai dengan yang diperkirakan oleh ekonom yang disurvei oleh Bloomberg. Investor telah menaikkan ekspektasi mereka setelah adanya sinyal kebijakan yang lebih longgar dari Beijing di tengah perlambatan ekonomi China.

Media pemerintah melaporkan bahwa pemotongan suku bunga pinjaman akan diumumkan dalam waktu dekat.

Data Biro Statistik Nasional yang dirilis pada Rabu juga memperkuat tanda-tanda perekonomian sedang melemah. Pertumbuhan ritel melambat menjadi 3,9 persen pada November, lebih rendah dari perkiraan ekonom 4,7 persen.

Pertumbuhan aset tetap tergelincir 5,2 persen untuk pertama kalinya dalam 11 bulan sepanjang 2021, dibandingkan dengan 6,1 persen pada Oktober.

Sementara itu, imbal hasil obligasi China 10 tahun naik 1 basis poin menjadi 2,88 persen setelah data dirilis.

Obligasi menguat dan dana asing membanjiri pasar saham seiring dengan keyakinan semakin menjauhnya kampanye pengurangan utang atau deleverage.

Bunga obligasi yuan 12 bulan turun ke level terendah sejak Juli 2020 minggu ini, pertanda pedagang bertaruh pada kebijakan moneter yang lebih longgar.

Pada pekan lalu, PBOC memangkas rasio cadangan minimum perbankan dengan melepas 1,2 triliun yuan dari likuiditas kepada sistem efektif. Para analis khawatir adanya penyebaran dari krisis China Evergrande Group yang menjadi alasannya.

Para ekonom memprediksi Beijing akan menjadi lebih pro pada pertumbuhan seiring dengan komitmen pemerintah untuk menciptakan stabilitas pada perekonomian. Seruan untuk suku bunga yang rendah telah menciptakan momentum pada saat sektor properti rapuh dan menyulitkan realisasi pemulihan.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china ekonomi china pboc

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top