Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

SCI Prediksi Kenaikan Tarif Angkut Kontainer Berlanjut, Ini Penyebabnya 

Untuk kota-kota strategis dengan volume kontainer yang cukup besar seperti Makassar terjadi kenaikan antara 30-80 persen dan Medan antara 30-60 persen. 
Rahmi Yati
Rahmi Yati - Bisnis.com 12 Desember 2021  |  10:13 WIB
SCI Prediksi Kenaikan Tarif Angkut Kontainer Berlanjut, Ini Penyebabnya 
Truk kontainer bersiap menurunkan kontainer ke dalam kawasan Terminal Peti Kemas dalam kawasan Pelindo II. - Bisnis/Anggara Pernando
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Supply Chain Indonesia (SCI) memprediksi tarif pengangkutan kontainer akan terus meningkat bahkan hingga 80 persen. Hal itu dikarenakan rencana pemberlakuan sistem floating booking space khusus untuk pengiriman kontainer mulai Januari 2022. 

Senior Consultant Supply Chain Indonesia (SCI) Sugi Purnoto mengatakan sistem yang akan diberlakukan beberapa perusahaan pelayaran domestik kepada para pelanggannya baik yang melakukan reservasi langsung ke pelayaran maupun yang melalui jasa forwarder nasional, dapat menyulitkan.

Yang akan terdampak, sambungnya, adalah para pelaku logistik terutama perusahaan jasa logistik terintegrasi (3PL) dan pengguna yang tidak menggunakan jasa 3PL, karena tidak ada jaminan ruang (space) dan rencana booking untuk pengiriman kontainer antar pulau. 

"Sistem floating booking space berpotensi berdampak terhadap peningkatan tarif pengangkutan kontainer karena kontainer tersedia tetapi ruang di kapal tidak tersedia," katanya, Minggu (12/12/2021).

Sugi menuturkan, pada periode antara awal hingga akhir 2021 terjadi kenaikan tarif yang tinggi. Untuk kota-kota strategis dengan volume kontainer yang cukup besar seperti Makassar terjadi kenaikan antara 30-80 persen dan Medan antara 30-60 persen. 

"Kenaikan tarif yang terjadi sejak triwulan II/2021 itu kemungkinan berlanjut pada 2022," tambah Sugi.

Lebih lanjut dia menyebut, saat ini para pengusaha menunggu tanggapan dari pelayaran nasional karena kondisi tersebut bertolak belakang dengan kebijakan Presiden Joko Widodo terkait penurunan biaya logistik. 

Beberapa upaya seperti program Tol Laut pun sudah dilakukan untuk penurunan harga barang terutama mengurangi disparitas harga di wilayah timur. 

Terganggunya rantai pasok dunia berdampak pada laju pengiriman barang antarnegara. Akibatnya, hal ini memicu kelangkaan dan kenaikan biaya ruang kontainer dalam pelayaran. Hal ini terjadi di banyak negara di dunia, termasuk Indonesia.

Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir telah menyampaikan bahwa kelangkaan kontainer terjadi karena tidak ada keseimbangan perdagangan dunia. Jadwal kapal berlayar semakin sedikit yang membuat harga pengiriman kargo atau freight melonjak drastis.

Selain itu, keadaan ini juga diperburuk dengan China yang memberlakukan kebijakan karantina Covid-19 yang sangat ketat. Akibatnya, para eksportir dalam negeri kini ikut merasakan kenaikan biaya jasa pengiriman kontainer ke pasar ekspor sebagai dampak langkanya kontainer.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengatakan dampak kelangkaan kontainer yang terjadi pada banyak negara juga dirasakan perdagangan dalam negeri.

Menurutnya, setidaknya hal ini sudah terjadi sejak kuartal II/2021 ketika biaya jasa pengiriman kontainer sudah terpantau naik.

"Awalnya belum berdampak, tapi di kuartal II tahun ini sudah berdampak pada harga kontainer domestik," ujarnya dalam webinar Indef beberapa waktu lalu.

Dia menyebut kenaikan harga pengiriman kontainer dalam negeri ke Sumatra naik 30 persen, khususnya ke Medan melonjak 40 persen, sementara Indonesia bagian timur naik 15 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kontainer biaya logistik
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top