Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kadin: PPKM Level 3 Tidak Bakal Mengganjal Roda Manufaktur

Jika PPKM Level 3 berhasil membendung lonjakan kasus, PMI manufaktur pada Januari 2022 akan bisa bertahan di level ekspansif. Sebelumnya, PMI manufaktur Indonesia tercatat di Level ekspansif 53,9 pada November 2021.
Pekerja mengecek lembaran baja di pabrik Sunrise Steel, Mojokerto, Jawa Timur, Kamis (18/2). /Antara Foto-Zabur Karuru
Pekerja mengecek lembaran baja di pabrik Sunrise Steel, Mojokerto, Jawa Timur, Kamis (18/2). /Antara Foto-Zabur Karuru

Bisnis.com, JAKARTA — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memproyeksikan purchasing managers' index (PMI) manufaktur Indonesia pada Desember 2021 akan tetap stabil di level ekspansif meski pemerintah akan memberlakukan PPKM Level 3 selama Natal dan Tahun Baru.

Wakil Ketua Umum Kadin Shinta W Kamdani mengatakan skenario terburuknya, akan ada sedikit penurunan karena risiko gelombang ketiga Covid-19 dan kemunculan varian baru omicron.

"Prospek PMI Desember kemungkinan besar masih akan ekspansif dan relatif stabil, atau sedikit turun dibandingkan November karena risiko third wave cukup tinggi, khususnya bila PPKM Level 3 tidak berhasil mengendalikan mobilitas masyarakat," kata Shinta kepada Bisnis, Rabu (1/12/2021).

Jika PPKM Level 3 berhasil membendung lonjakan kasus, PMI manufaktur pada Januari 2022 akan bisa bertahan di level ekspansif.

Menurut Shinta, kenaikan harga komoditas sejauh ini tidak banyak mempengaruhi produktivitas selama permintaan pasar domestik cukup kuat.

Sementara itu, mengenai antisipasi penyebaran varian omicron, Shinta mengatakan upaya pemerintah sudah cukup baik dengan memberlakukan kontrol perbatasan. Dia juga memandang kebijakan PPKM Level 3 sudah tepat untuk mencegah peningkatan transmisi lokal terhadap Covid-19.

"Hanya tinggal konsistensi pelaksanaannya saja di lapangan. Semoga masyarakat mau bekerjasama menahan diri untuk tidak memaksakan meningkatkan mobilitas dan tetap disiplin menjalankan prokes sepanjang periode liburan akhir tahun," kata Shinta.

Sebelumnya, PMI manufaktur Indonesia tercatat di Level ekspansif 53,9 pada November 2021. Capaian tersebut turun dari angka rekor Oktober 57,2.

Meski secara umum ekspansif, laporan IHS Markit menunjukkan manufaktur Indonesia menghadapi tekanan harga bahan baku pada bulan lalu. Perusahaan harus menanggung harga input dan biaya output yang kembali naik pada November.

Inflasi harga input mengalami akselerasi pada November ke posisi tinggi dalam delapan tahun, didorong oleh kenaikan biaya bahan baku dan transportasi di samping kekurangan di pihak pemasok. Sehingga, perusahaan manufaktur berlanjut meneruskan beban kenaikan biaya kepada pelanggan dengan menaikkan harga.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Reni Lestari
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper