Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Indeks Pembangunan Manusia 2021 Tumbuh Melambat, Kok Bisa?

BPS juga menggarisbawahi indeks pembangunan manusia (IPM) 2021 masih belum optimal, karena salah satu indikator masih berada di bawah level sebelum pandemi Covid-19.
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 16 November 2021  |  19:10 WIB
Indeks Pembangunan Manusia 2021 Tumbuh Melambat, Kok Bisa?
Pegawai DKI Jakarta menyelesaikan pekerjaannya di kantor Balai kota Jakarta, Rabu (10/2/2021). - Antara\\r\\n
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia 2021 mencapai 72,29, atau tumbuh melambat 0,49 persen dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya, sebesar 71,94.

BPS mengatakan peningkatan IPM tahun ini dibandingkan dengan 2020 didorong oleh peningkatan dari seluruh dimensi, yaitu kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Sejak 2016, IPM Indonesia berstatus tinggi atau di atas 70.

Namun, BPS juga menggarisbawahi bahwa pertumbuhan IPM pada 2021 masih belum optimal, karena salah satu indikator masih berada di level di bawah 2019. Indikator tersebut adalah nilai pengeluaran per kapita disesuaikan dalam dimensi ekonomi.

"Akan tetapi satu hal yg perlu dicatat adalah bahwa meskipun IPM mengalami peningkatan, tetapi tumbuhnya melambat. Nilai pengeluaran per kapita disesuaikan [PPP] meskipun mengalami kenaikan selama 2020-2021, levelnya masih di bawah level tahun 2019," jelas Direktur Analisis dan Pengembangan Statistik Ali Said kepada Bisnis, Senin (15/11/2021).

Sebelumnya pada 2020, IPM mengalami kenaikan hanya berkat dua faktor yaitu dorongan dari dimensi pendidikan dan kesehatan. Pada saat itu, dimensi ekonomi mengalami kontraksi atau pertumbuhan negatif.

Pada 2020, pengeluaran per kapita per tahun disesuaikan turun ke Rp11.013.000, dari posisi 2019 sebesar Rp11.299.000. Posisi 2019 tersebut masih lebih tinggi dari posisi 2021, yang naik Rp143.000 ke Rp11.156.000.

Di sisi lain, Ali tidak menampik peningkatan di 2021 menandakan adanya perbaikan ekonomi dari awal pandemi 2020. Namun, dia menyebut pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi diperlukan untuk meningkatkan IPM ke depannya.

"Peningkatan IPM yg cepat ke depan dibutuhkan adanya pertumbuhan ekonomi yang tinggi untuk mendorong peningkatan daya beli rumah tangga," tutur Ali.

Adapun, Kepala BPS Margo Yuwono merincikan pertumbuhan dimensi IPM. Pertama, dimensi kesehatan diwakili oleh indikator umur harapan hidup saat lahir meningkat 0,14 persen menjadi 71,57 tahun.

"Artinya, setiap bayi yang hidup pada tahun 2021 ini mempunyai peluang hidup sebesar 71,57 tahun," jelas Margo pada konferensi pers, Senin (15/11/2021).

Kedua, dimensi pendidikan diwakili oleh indikator rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah. Capaian rata-rata lama sekolah di 2021 meningkat 0,71 persen menjadi 8,54 tahun, sedangkan harapan lama sekolah meningkat 0,77 persen menjadi 13,08 tahun.

Ketiga, dimensi ekonomi ditunjukkan melalui indikator pengeluaran per kapita per tahun yang disesuaikan. Tahun ini, indikator tersebut tumbuh 1,30 persen atau setara dengan Rp143.000, ke Rp11.156.000 per tahun.

Secara spasial, provinsi dengan IPM tertinggi adalah DKI Jakarta dengan perolehan IPM 81,11 (status tinggi), sedangkan IPM terendah adalah provinsi Papua (status sedang) yaitu 60,62.

Terdapat 10 provinsi denga perolehan IPM yang melebihi angka nasional. Mereka terdiri dari DI Yogyakarat (80,22), Kalimantan Timur (76,88), Kepulauan Riau (75,79), Bali (75,69), Sulawesi Utara (73,30), Riau (72,94), Banten (72,72), Sumatera Barat (72,65), dan Jawa Barat (72,45).

"Sedangkan kategor rendah sudah tidak ada lagi, karena semua sudah berada di atas 60," tutup Margo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BPS indeks pembangunan manusia pandemi corona
Editor : Feni Freycinetia Fitriani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top