Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Prospek Belanja Modal pada 2022, Banyak Peritel Masih Wait and See

Keputusan soal belanja modal untuk ekspansi pada 2022 bakal ditentukan oleh kondisi pada penghujung 2021 dan kuartal I/2022.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 16 November 2021  |  19:36 WIB
Prospek Belanja Modal pada 2022, Banyak Peritel Masih Wait and See
Gerai Carrefour Trans Retail Indonesia. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Perencanaan investasi dan ekspansi di ritel format besar masih diwarnai ketidakpastian, seiring dengan peringatan pemerintah soal risiko gelombang baru penyebaran Covid-19.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N. Mandey mengatakan banyak perusahaan yang belum mengambil keputusan investasi dan ekspansi pada 2022, terlepas dari prospek pasar yang jauh lebih baik.

“Banyak peritel masih mengobservasi perkembangan pandemi. Setelah melalui observasi dan melihat seberapa landai kasus, mungkin kami akan mulai akselerasi meski belum ada keputusan. Kami masih menunggu, apalagi pemerintah memberi warning soal risiko gelombang baru karena aktivitas di kuartal IV/2021,” kata Roy, Selasa (16/11/2021).

Keputusan soal belanja modal untuk ekspansi pada 2022, kata Roy, bakal ditentukan oleh kondisi pada penghujung 2021 dan kuartal I/2022. Situasi ekonomi dan pandemi dalam periode ini dia sebut akan menentukan keputusan bisnis yang diambil perusahaan, terlebih dengan fakta bahwa kuartal II/2022 bertepatan dengan festive season.

“Ekspansi sangat tergantung bagaimana kita melewati kuartal IV/2021. Meski beberapa sudah menyusun rencana bisnis terbaik,” katanya.

Roy mengatakan terdapat beberapa pertimbangan bisnis yang mulai disusun peritel, seperti mengurangi luas gerai dan mempertimbangkan membeli lokasi di wilayah dengan prospek konsumsi yang masih bagus. Tetapi, eksekusi rencana ini tetap kembali pada perkembangan penanganan Covid-19 di dalam negeri.

Selain itu, Roy meyakini peluang bagi ritel format besar tetap terbuka lebar, mengingat potensi perbaikan konsumsi di segmen-segmen produk secondary di kalangan konsumen menengah ke atas.

“Selama pandemi masyarakat fokus membeli barang kebutuhan pokok. Ketika pandemi berhasil ditanggulangi, kebutuhan secondary bisa meningkat. Namun kembali lagi, masyarakat akan terlebih dulu melihat situasi,” ujarnya.

Terlepas dari ketidakpastian dalam eksekusi perencanaan bisnis dan lesunya bisnis ritel format besar, Roy mengatakan peritel terus menyusun strategi agar tetap relevan dengan perkembangan aktivitas belanja masyarakat.

Sebagai contoh, peritel mulai mempertimbangkan perampingan ukuran toko untuk menyesuaikan kebutuhan masyarakat. Sekalipun ukuran besar dimanfaatkan, Roy mengatakan terdapat layanan baru yang disiapkan untuk menarik konsumen.

“Strategi sekarang lebih ke bagaimana creating demand dan menyesuaikan perubahan pola konsumsi,” katanya.

Ritel format besar seperti hypermarket dan department store menjadi salah satu yang paling tertekan selama pandemi. Laporan Nielsen Retail Audit menunjukkan ritel hypermarket dan supermarket tumbuh negatif 10,1 persen pada 2020, lebih dalam daripada penurunan 2019 sebesar 5,8 persen. Sementara pada kuartal I/2021, penurunan kinerja format ini mencapai 14,5 persen year-on year.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi ritel modern Covid-19
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top