Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Tantangan Kabel Bawah Laut Australia-Singapura Sejauh 4.200 Kilometer

Kabel Bawah Laut Australia-Singapura harus memiliki persiapan dari sisi manufaktur yang memadai, termasuk menyediakan kabel bawah laut tanpa putus maupun kepastian tidak terjadi gangguan, seperti terkena jangkar kapal maupun sabotase.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 15 Oktober 2021  |  19:55 WIB
Ilustrasi kabel bawah laut - PCMag
Ilustrasi kabel bawah laut - PCMag

Ini Tantangan Kabel Bawah Laut Australia-Singapura Sejauh 4.200 Kilometer

Bisnis.com, JAKARTA – Australia dan Singapura berencana membangun kabel bawah laut sebagai transmisi sejauh 4.200 kilometer.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Herman Darnel Ibrahim menyampaikan, ada sejumlah tantangan yang harus dijawab dalam proyek ini.

Rencana pembangunan transmisi bawah laut sepanjang 4.200 kilometer tersebut akan membentang dari Darwin, Australia menuju Singapura melalui Laut Timor dan perairan Indonesia. Transmisi melalui kabel bawah laut itu menjadi rencana kabel bawah laut terpanjang di muka bumi.

Proyek transmisi bawah laut yang akan mengirimkan energi surya sekitar 3 gigawatt (GW) itu akan dibangun oleh Australia-Asia PowerLink. Selain itu, perusahaan asal Australia, Sun Cable juga akan membangun jaringan kabel bawah laut senilai US$2,58 miliar, dan menjadi yang terbesar di dunia.

Dia menilai, proyek tersebut harus memiliki persiapan dari sisi manufaktur yang memadai, termasuk menyediakan kabel bawah laut tanpa putus maupun kepastian tidak terjadi gangguan, seperti terkena jangkar kapal maupun sabotase.

Menurutnya, kabel bawah laut sebaiknya hanya menjadi daya cadangan, bukan penyalur pasokan listrik utama.

“Kenapa harus dari Australia? Bukan dari China yang jaraknya lebih dekat dan bisa melalui darat, serta memiliki Gurun Taklamakan? Selain itu, potensi losses sangat besar, ada risiko kabel terkena jangkar atau ada sabotase, sehingga sangat berisiko,” katanya dalam keterangan resmi, Jumat (15/10/2021).

Tantangan lainnya, kata dia, adalah konstruksi kabel dari pabrik langsung ke kapal.

“Itu tidak boleh ada sambungan kabel sepanjang 4.200 kilometer. Bagaimana kira-kira cari solusi agar tidak ada sambungan di dalam air. Apakah pasokan itu akan aman, itu rawan terkena jangkar, sabotase oleh pihak yang ingin mengganggu,” ujarnya.

Berdasarkan hasil kajiannya, tarif listrik dari energi surya yang dikirimkan melalui kabel submarine dari Australia–Singapura dapat berada di atas US$25 sen per kWh.

Perinciannya adalah untuk kabel bawah laut sepanjang 4.200 kilometer, biaya tambahan US$14 sen per kWh. Harga listrik dari solar PV sekitar US$4 sen–US$8 sen per kWh bergantung atas bunga bank. 

Kemudian ada juga biaya battery storage dan biaya lainnya. Walhasil, tarif listrik tenaga surya yang dikirim dari Australia ke Singapura bisa mencapai US$28 sen per kWh atau setara Rp4.060 per kWh. Padahal, tarif dasar listrik di Indonesia di kisaran Rp1.400 per kWh.

Herman menambahkan bahwa konstruksi kabel yang panjang juga harus digelar langsung di dalam laut. Kemudian dibuat lubang kabel di bawah laut untuk keamanan agar tidak bergeser akibat arus laut atau pergeseran lempeng bawah laut, sehingga akan menambah biaya investasi.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kabel bawah laut TRANSMISI LISTRIK
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top