Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Potensi Penjualan Bioavtur Mencapai Rp1,1 Triliun per Tahun

Bahan bakar nabati bioavtur dinilai bisa mendapatkan potensi pasar yang besar jika merujuk pada penjualan avtur untuk kebutuhan maskapai penerbangan di dalam negeri.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 06 Oktober 2021  |  14:51 WIB
Ilustrasi. Petugas melakukan pengisian bahan bakar avtur pada salah satu pesawat komersial di Apron Bandara Adi Soemarmo, Boyolali, Jawa Tengah, Senin (12/6). - Antara/Aloysius Jarot Nugroho
Ilustrasi. Petugas melakukan pengisian bahan bakar avtur pada salah satu pesawat komersial di Apron Bandara Adi Soemarmo, Boyolali, Jawa Tengah, Senin (12/6). - Antara/Aloysius Jarot Nugroho

Bisnis.com, JAKARTA – Bahan bakar nabati bioavtur dinilai bisa mendapatkan potensi pasar yang besar jika merujuk pada penjualan avtur untuk kebutuhan maskapai penerbangan di dalam negeri.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa pemerintah memperkirakan rata-rata konsumsi harian bioavtur dengan campuran 2,4 persen atau J2,4 bisa mencapai 14.000 kiloliter (KL).

Dengan demikian, potensi pasar bioavtur J2,4 akan mencapai sekitar Rp1,1 triliun per tahun.

“Tentunya akan menjadi pangsa pasar yang besar bagi pengembangan industri sawit nasional,” katanya dalam acara Uji Terbang Pesawat CN235-220 FTB Menggunakan Campuran Bahan Bakar Bioavtur J2,4, Rabu (6/10/2021).

Airlangga menuturkan, keekonomian bioavtur J2,4 harus terpenuhi dengan memanfaatkan segala fasilitas yang telah diberikan oleh pemerintah, baik insentif nonfiskal maupun terkait perpajakan, seperti super tax deduction untuk riset.

Keberhasilan pengembangan bioavtur juga akan memberikan dampak positif untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor.

Selain itu, pemanfaatan bioavtur akan memberikan peluang baru bagi komoditas minyak sawit untuk dijadikan sebagai sumber energi.

“Kelapa sawit berkontribusi untuk pencapaian sustain goals dan penciptaan lapangan kerja, karena sekitar 12 juta tenaga kerja bergantung pada sektor ini,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengatakan bahwa pengembangan bioavtur dilakukan di dalam Treated Distillate Hydro Treating (TDHT).

Katalis merah putih untuk bioavtur diproduksi di fasilitas milik Clariant Kujang Catalyst di Cikampek, dengan supervisi langsung dari team Research Technology and Innovation (RTI) Pertamina.

Melalui unit Kilang Cilacap, bioavtur dihasilkan dari bahan baku minyak inti kelapa sawit

atau Refined, Bleached, and Deodorized Palm Kernel Oil (RBDPKO) dengan avtur fosil.

Kapasitas produksi bioavtur di unit Kilang Cilacap saat ini mencapai 8.000 barel per hari dan akan terus ditingkatkan dengan melihat kebutuhan pasar mulai 2023.

“Bioavtur J2,4 mengandung nabati 2,4 persen, ini merupakan pencapaian maksimal dengan teknologi katalis yang ada,” jelasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bahan bakar nabati avtur
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top