Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Interkoneksi Kelistrikan Kalimantan-Sulawesi Ditargetkan Selesai 2024

Pemerintah membidik interkoneksi seluruh pulau besar di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Target awal, sistem kelistrikan Pulau Kalimantan dan Sulawesi dapat terkoneksi pada 2024.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 05 Oktober 2021  |  12:22 WIB
Interkoneksi Kelistrikan Kalimantan-Sulawesi Ditargetkan Selesai 2024
Teknisi memasang jaringan kelistrikan baru di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (21/2/2019). - Bisnis/Paulus Tandi Bone
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah membidik interkoneksi seluruh pulau besar di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Target awal, sistem kelistrikan Pulau Kalimantan dan Sulawesi dapat terkoneksi pada 2024.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan bahwa proyek tersebut sebagai pembuka untuk interkoneksi seluruh pulau besar di Indonesia, yakni Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

“Selanjutnya dilakukan kajian untuk interkoneksi antar-pulau yang disebut dengan Super Grid yang menghubungkan antarpulau besar di Indonesia. Dalam hal ini, selain meningkatkan keandalan juga dapat mengatasi adanya over supply di suatu sistem besar,” katanya, Selasa (5/10/2021).

Dalam daftar proyek yang ditetapkan di Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2021–2030, disepakati sejumlah interkoneksi dalam beberapa tahun mendatang.

Pertama, interkoneksi Sumatra-Bangka sebesar 150 kilo volt (kV) pada 2022. Kedua, interkoneksi Sumatra ke Malaysia pada 2030 sebesar 500 kV. Upaya tersebut sebagai bentuk dukungan kerangka kerja sama Asean Power Grid.

Ketiga, interkoneksi Kalimantan pada 2023 sebesar 150 kv, dan interkoneksi Sulawesi Bagian Utara (Sulbagut)-Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel).

Sementara itu, proyek yang masih perlu kajian lebih lanjut adalah interkoneksi Sumatra-Singapura, interkoneksi Sumatra-Jawa 500 kV, Bali-Lombok 150 kV, Bangka-Belitung 150 kV, interkoneksi Belitung-Kalimantan, serta Baubau-Sulbagsel 150 kV.

“Dalam RUPTL ini juga direlokasi pembangkit yang utilitas-nya rendah ke wilayah yang lebih membutuhkan. Sinergi PLN dan seluruh stakeholder mempunyai peran penting dalam infrastruktur ketenagalistrikan,” katanya.

Sementara itu, RUPTL PLN 2021–2030 menjabarkan pengebangan energi baru terbarukan (EBT) sebesar 51,6 persen dan energi fosil 48,4 persen. Secara keseluruhan, pemerintah membidik penambahan kapasitas listrik hingga 40.575 megawatt (MW) pada 2030.

Dalam RUPTL itu juga pemerintah menegaskan bahwa tidak ada lagi rencana pembangunan PLTU baru, kecuali yang sudah committed dan konstruksi. Kondisi itu juga membuka ruang yang cukup besar untuk pengembangan EBT untuk menggantikan rencana PLTU dalam RUPTL sebelumnya.

“Dengan kecenderungan harga PLTS [pembangkit listrik tenaga surya] yang semakin murah dan masa pembangunan lebih cepat, untuk pencapaian target 23 persen bauran EBT pada tahun 2025, porsi PLTS didorong lebih besar dibandingkan dengan RUPTL sebelumnya.”

“Selain itu, pencapaian target bauran EBT akan dipenuhi oleh co-firing PLTU dengan Biomassa dan tetap memperhatikan lingkungan untuk ketersediaan feedstock,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

PLN interkoneksi listrik kelistrikan
Editor : Lili Sunardi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top