Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

SugarCo Bisa Genjot Produksi Gula Nasional, Ini Syaratnya

Asosiasi Gula Indonesia menilai produksi gula konsumsi bisa naik sejalan dengan komitmen dari holding pabrik gula SugarCo.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 20 September 2021  |  21:03 WIB
Gula - Ilustrasi
Gula - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Pemangku kepentingan pergulaan di Tanah Air memperkirakan produksi gula konsumsi bisa naik jika pemberdayaan di sisi hulu terus dilanjutkan, sebagaimana telah menjadi komitmen dari holding pabrik gula SugarCo.

Mengacu pada taksasi tengah masa giling yang dirilis pada 9 September 2021, Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Budi Hidayat mengatakan potensi produksi gula konsumsi tahun ini bisa mencapai 2,4 juta ton. Lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi pada 2020 yang hanya sebesar 2,13 juta ton.

“Kalau melihat laporan tengah giling dari Direktorat Jenderal Perkebunan, produksi bisa 2,4 juta ton pada akhir giling. Angka ini yang harus dikawal,” kata Budi, Senin (20/9/2021).

Budi mengemukakan bahwa produksi gula hasil olahan pabrik gula BUMN menunjukkan penurunan sejak 2019. Hal ini diperkirakan kembali terulang pada 2021 jika mengacu pada taksasi yang dirilis oleh pemerintah.

Data taksasi menunjukkan bahwa potensi produksi GKP dari perusahaan swasta sampai akhir masa giling adalah 1,33 juta ton, lebih tinggi dari pada pabrik BUMN yang diproyeksi hanya menghasilkan 1,08 juta ton.

Keunggulan volume produksi pabrik gula swasta tidak lepas dari luas area hasil tebu yang lebih luas. Kementerian Pertanian memperkirakan luas area panen tebu untuk pabrik BUMN adalah 199.930 hektare (ha), sementara luas swasta adalah 244.902 ha.

“Apakah target SugarCo untuk mengejar swasembada akan tercapai tentunya akan lebih jelas ketika para investor sudah masuk,” kata Budi.

Terpisah, Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI) Soemitro Samadikun mengatakan usul untuk perbaikan pabrik gula BUMN sejatinya telah diusulkan petani sejak lama agar penyerapan tebu lebih maksimal. Di sisi lain, dia mengaku sangsi soal penguatan kemitraan yang dijanjikan bakal bergulir ketika SugarCo berdiri.

“Sistem pembelian tebu sekarang belum mendukung kemitraan yang ideal. Misalnya dengan beli putus yang menyebabkan hubungan pabrik dan petani transaksional, siapa yang punya tebu bisa memasok, terlepas dia petani atau bukan,” kata dia.

Dia juga mengkritisi perlindungan harga gula di tingkat petani yang masih belum optimal pelaksananaannya. Pemerintah sejatinya telah menetapkan floor price gula petani oleh APTRI bersama PT RNI dan PTPN III sebesar Rp10.500 per kg. Namun, hasil evaluasi menunjukkan bahwa banyak gula petani yang tidak terserap dengan mekanisme lelang karena harga yang ditawarkan di bawah Rp10.500 per kg.

“Sampai saat ini PG yang ditunjuk belum menyerap gula petani dengan optimal sesuai dengan harga tersebut,” kata dia.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gula pabrik gula
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top