Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Utilisasi Industri Semen Teretekan Rendahnya Pasokan Batu Bara

Rendahnya ketersediaan pasokan batu bara menambah beban utilisasi industri semen yang telah tertekan oleh pandemi Covid-19 dan kelebihan kapasitas terpasang.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 06 September 2021  |  13:18 WIB
Ilustrasi. - Istimewa
Ilustrasi. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Rendahnya ketersediaan pasokan batu bara menambah beban utilisasi industri semen yang telah tertekan oleh pandemi Covid-19 dan kelebihan kapasitas terpasang.

Asosiasi Semen Indonesia (ASI) menyatakan bahwa tingkat ketersediaan batu bara di industri semen umumnya dapat menopang proses produksi hingga 1 bulan. Namun demikian, ketersediaan batu bara di kebanyakan industri semen saat ini hanya mampu mendukung kegiatan produksi sekitar 1–2 minggu.

“Ini betul-betul ancaman terhadap kelangsungan industri [semen] dalam negeri. Semoga hal ini segera dapat perhatian serius dari pemerintah,” kata Ketua Umum ASI Widodo Santoso kepada Bisnis, Senin (6/9/2021).

Widodo menduga, rendahnya ketersediaan batu bara di industri semen saat ini disebabkan dua hal, yakni harga yang tinggi dan minimnya ketersediaan di pasar. Widodo mencatat, harga batu bara per Juli 2021 telah tumbuh 60 persen secara tahunan.

Menurutnya, penurunan ketersediaan batu bara di pasar lokal disebabkan oleh program ekspor yang eksesif, dan ada beberapa oknum melanggar aturan kewajiban pasar dalam negeri atau domestic market obligation (DMO).

“Laporan dari anggota ASI, hampir semua produsen kritis stok batu bara untuk kebutuhan operasinya,” ucapnya.

Sementara itu, Widodo juga mengatakan bahwa pihaknya telah mendapatkan informasi bahwa harga batu bara di pasar domestik dapat melonjak dua kali lipat pada akhir 2021.

Seperti diketahui, harga batu bara berkontribusi sekitar 35–40 persen dari total biaya produksi semen nasional.

Widodo berujar, kenaikan biaya produksi berpotensi meniadakan program ekspor semen secara keseluruhan. Pasalnya, program ekspor dapat membuat perusahaan semen nasional justru merugi.

Adapun, kinerja ekspor semen per Juli 2021 mencapai 855.000 ton atau naik sekitar 26,47 persen secara tahunan.

Namun demikian, kinerja ekspor tersebut merupakan yang terendah sepanjang Januari–Juli 2021. Sementara itu, kinerja ekspor tertinggi terjadi pada Maret dan April 2021, yakni sebanyak 1,28 juta ton pada dua bulan tersebut.

Di samping itu, kinerja ekspor semen selama Januari–Juli 2021 telah mencapai 7,58 juta ton atau tumbuh 70 persen secara tahunan. Widodo berharap, pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap kenaikan harga batu bara tersebut.

"Sehingga [harga batu bara] tidak naik begitu besar. [Jika tidak ditangani,]harga ekspor semen [dapat] membumbung tinggi sampai lebih dari US$130 per ton," katanya.

Seperti diketahui, ASI terdiri dari 15 perusahaan semen yang tergabung dalam 11 grup semen nasional. Hingga akhir semester I/2021, kapasitas terpasang industri semen nasional mencapai 116,3 juta ton per tahun.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batu bara industri semen
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top