Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

WFH Bikin Permintaan Ruang Perkantoran Tertekan

Pemberlakuan kerja dari rumah atau work from home (WFH) selama pandemi Covid-19 berdampak terhadap turunnya permintaan sewa ruang perkantoran. Pemilik ruang perkantoran pun harus memberikan insentif agar okupansinya terjaga.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 30 Agustus 2021  |  17:48 WIB
Salah satu sudut ruangan di Intiland Office Tower Jakarta. Gedung perkantoran yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta itu merupakan salah satu portofolio andalan PT Intiland Development Tbk. - intiland.com
Salah satu sudut ruangan di Intiland Office Tower Jakarta. Gedung perkantoran yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta itu merupakan salah satu portofolio andalan PT Intiland Development Tbk. - intiland.com

Bisnis.com, JAKARTA – Pemberlakuan kerja dari rumah atau work from home (WHO) selama pandemi Covid-19 berdampak terhadap turunnya permintaan sewa ruang perkantoran. Pemilik ruang perkantoran pun harus memberikan insentif agar okupansinya terjaga.

Corporate Secretary PT Intiland Development Tbk. (DILD) Theresia V Rustandi mengatakan bahwa secara umum tingkat permintaan ruang kantor mengalami penurunan sejak pandemi Covid-19. Meski begitu, okupansi perkantoran Intiland cukup stabil.

“Kami berusaha untuk menjaga okupansi dengan memberikan relaksasi kepada para penyewa dan mencari terus potensi pasar penyewa baru,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (30/8/2021).

Saat ini, Intiland mengelola ruang perkantoran Intiland Tower di Jakarta dan Surabaya, South Quarter di Jakarta, serta Spazio dan Spazio Tower di Surabaya.

Okupansi perkantoran milik Intiland, kata dia, bervariasi dari 55 persen hingga 80 persen. South Quarter menjadi perkantoran yang memiliki okupansi paling tinggi mencapai 80 persen dan mayoritas penyewanya adalah perusahaan multinasional.

“Masing-masing gedung perkantoran memiliki segmen dan target market yang berbeda. Kami mencoba masuk ke pasar yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing perusahaan, baik dari sisi lokasi, harga sewa, serta fasilitas yang disediakan,” katanya.

Theresia memproyeksikan, tren pasar perkantoran belum banyak berubah dalam 6 bulan ke depan. Kebutuhan terhadap ruang kantor, khususnya dalam jumlah yang besar masih akan relatif sama.

Adapun, untuk kebutuhan terhadap ruang perkantoran dengan ukuran kecil justru mengalami peningkatan.

“Kami telah mengantisipasi tren ini dengan mengembangkan model perkantoran yang lebih dinamis, seperti menyediakan fasilitas co-working space,” ucapnya.

Saat ini, emiten berkode DILD sudah memiliki tiga co-working space bernama Sub Co di Surabaya dengan okupansi rata-rata 85 persen sampai dengan 90 persen.

“Jadi untuk tipe coworking space lebih bagus okupansinya, karena ruang kantornya lebih fleksibel,” tutur Theresia.

Sementara itu, Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengatakan bahwa pasokan perkantoran di Jakarta diproyeksikan mencapai 10,7 juta meter persegi, dimana 65 persen disumbang dari wilayah CBD hingga akhir tahun ini.

Tingkat hunian di CBD pada kuartal II/2021 pun mengalami penurunan 1,1 persen secara kuartalan, sehingga tingkat hunian hanya sekitar 79,2 persen.

“Sementara itu, tingkat hunian di luar CBD sebesar 78,4 persen, atau turun 1,2 persen qoq,” ucapnya.

Ferry menilai, penurunan tersebut terjadi lantaran pengurangan luas kantor yang seringkali terjadi dan permintaan yang bersifat dinamis di tengah ketidakpastian akibat Covid-19.

Meskipun saat ini bisnis perkantoran terdampak dan harus melakukan optimalisasi dan mengurangi pengeluaran, bisnis co working space dinilai masih memiliki masa depan cukup cerah, lantaran adanya faktor fleksibilitas yang ditawarkan.

Menurutnya, permintaan properti perkantoran diprediksi akan mulai membaik pada 2023 seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang kembali pulih pascapandemi Covid-19.

Perubahan pola kerja pascapandemi Covid-19 juga berpotensi mengurangi permintaan perkantoran. Adapun, masing-masing perusahaan kemungkinan besar akan mengurangi ruang yang disewanya hingga 30 persen.

Di sisi lain, untuk ruang kerja bersama atau co working space saat ini tak jauh berbeda dengan perkantoran konvensional.

Co working space masih sangat potensial untuk tumbuh di masa depan, seiring dengan perubahan pola kerja dan meningkatnya kebutuhan akan ruang kantor yang menawarkan fleksibilitas bagi perusahaan,” jelasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

intiland ruang kantor
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top