Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Varian Delta Sebabkan Defisit APBN Melebar ke 5,82 Persen, Ini Penjelasan Kemenkeu

Pelebaran defisit terjadi karena eskalasi penyebaran Covid-19 varian Delta. Hal tersebut memicu pelemahan ekonomi di 2021, sehingga pemerintah turut menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi di 2021 menjadi 3,7 persen-4,5 persen, dari sebelumnya 4,5 persen-5,3 persen.
Pengendara melintas di jalur penyekatan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), Jakarta, Minggu (1/8/2021). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Pengendara melintas di jalur penyekatan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), Jakarta, Minggu (1/8/2021). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mematok defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021 sebesar 5,8 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka itu lebih tinggi dari yang sebelumnya ditetapkan yaitu 5,7 persen dari PDB.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio Kacaribu menjelaskan pelebaran defisit terjadi karena eskalasi penyebaran Covid-19 varian Delta. Hal tersebut memicu pelemahan ekonomi di 2021, sehingga pemerintah turut menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi di 2021 menjadi 3,7 persen-4,5 persen, dari sebelumnya di kisaran 4,5 persen-5,3 persen.

“Kita sudah antisipasi bahwa nilai dari PDB nominal akan turun dibandingkan dengan asumsi di APBN yaitu 5 persen. Terkait dengan [varian] Delta kemarin, kita sudah merevisi bahwa kemungkinan di tahun ini kita tidak akan mencapai 5 persen itu. Kita revisi range-nya di antara 3,7 sampai 4,5 persen dari pertumbuhan 2021,” jelas Febrio pada Media Briefing Strategi dan Outlook Perekonomian dan Kesejahteraan, Rabu (18/8/2021).

Secara nominal, outlook defisit APBN 2021 sebesar Rp939,6 triliun justru turun dari asumsi defisit yang sebelumnya ditetapkan yaitu Rp1.006,4 triliun. Namun, dengan PDB yang lebih rendah maka outlook defisit APBN 2021 bergerak menjadi 5,8 persen.

“Walaupun secara nominal defisit turun dari Rp1.006,4 triliun ke Rp939,6 triliun, namun karena pembaginya itu lebih rendah, maka outlook angka defisitnya di sekitar 5,8 persen. Jadi itu kenapa angkanya kemungkinan bergera sedikit ke atas,” tutur Febrio.

Akan tetapi, dia menilai risiko yang ditimbulkan akan lebih rendah, karena secara nominal kebutuhan pembiayaan menjadi lebih rendah yaitu menjadi Rp66,8 triliun.

“Jadi ini kami melihat angka dan pasar dan lembaga rating melihat semua angka ini comes no surprise, ini salah satu paling lumrah dan ini jadi sesuatu perspektif positif makro sebab defisit nominal rendah,” tutup Febrio.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dany Saputra
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper