Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pengusaha Sebut Postur RAPBN 2022 Perlu Diubah, Jika...

Pelaku usaha menyatakan ada sejumlah hal yang bisa diperhatikan pada rencana anggaran pendapatan dan belanja negara atau RAPBN 2022.
Ipak Ayu
Ipak Ayu - Bisnis.com 17 Agustus 2021  |  18:25 WIB
Pengusaha Sebut Postur RAPBN 2022 Perlu Diubah, Jika...
Shinta W Kamdani - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Pengusaha menyebut kinerja kuartal IV/2021 akan sangat menentukan proyeksi pemulihan tahun depan.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan dengan mempertimbangkan kondisi di atas, kalangan pengusaha saat ini belum membuat outlook ekonomi untuk tahun depan.

Namun, ada sejumlah hal yang bisa diperhatikan pada rencana anggaran pendapatan dan belanja negara atau RAPBN 2022.

"Kalau kuartal IV/2021 kita memiliki v-shaped recovery misal pertumbuhan kuartal bisa sama atau mendekati pertumbuhan kuartal II/2021, kemungkinan dukungan fiskal yang dirancang pemerintah dalam RAPBN 2022 tidak perlu diubah, tetapi kalau lebih rendah ada kemungkinan dukungan APBN untuk PEN perlu ditambah," katanya kepada Bisnis, Selasa (17/8/2021).

Shinta menyebut prinsipnya jika asumsi terkait pandemi sesuai perkiraan atau tidak ada gelombang tiga dan normalisasi kegiatan ekonomi tidak lagi terdisrupsi oleh pandemi, pelaku usaha meyakini proyeksi pertumbuhannya masih realistis.

Meski, Shinta mengatakan ada sejumlah hal yang perlu dipertimbangkan terkait capaian pertumbuhan 2022 selain pandemi seperti kecepatan pencapaian target herd immunity nasional, kemampuan pelaku usaha, khususnya di sektor-sektor yang terdampak sangat berat oleh pandemi.

Pasalnya, untuk bisa berlanjut pada tahun depan tanpa adanya PEN, maka konsumsi masyarakat menjadi penentu.

Shinta menekankan faktor kecepatan daya beli dan konsumsi masyarakat untuk bisa pulih hingga akhir tahun dan seberapa besar pembukaan batas normalisasi pembatasan negara lain terhadap Indonesia akan berpengaruh pada potensi penerimaan investasi dan pertumbuhan sektor jasa nasional.

"Seluruh elemen ini kami rasa akan sangat mempengaruhi potensi pencapaian pertumbuhan 5 persen tersebut tetapi saat ini belum bisa kita proyeksikan karena masih ada satu kuartal lagi yang belum dijalani," ujar Shinta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi RAPBN Covid-19
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top