Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Terimbas PPKM, Kargo Tak Lagi Jadi Pendapatan Sampingan Maskapai

Perpanjangan PPKM level 4 tak dipungkiri berdampak kepada penurunan penumpang apabila dibandingkan dengan kondisi normal.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 06 Agustus 2021  |  11:10 WIB
Terimbas PPKM, Kargo Tak Lagi Jadi Pendapatan Sampingan Maskapai
Ilustrasi - Aktivitas di sebuah pesawat kargo logistik. - Bisnis/Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Pendapatan maskapai dari sektor kargo yang selama ini menjadi bisnis sampingan tak lagi bisa dipandang sebelah mata selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) masih berlangsung.

Direktur Niaga Sriwijaya Air Group Henoch Rudi Iwanudin mengatakan perpanjangan PPKM level 4 tak dipungkiri berdampak kepada penurunan penumpang apabila dibandingkan dengan kondisi normal. Pasalnya dalam PPKM ini yang dibatasi adalah mobilitas masyarakat.

Dengan demikian, tuturnya, bisnis kargo sangat menjanjikan bagi maskapai. Karena itu, Sriwijaya Group akan memaksimalkan pendapatan perusahaan dari sektor ini.

Henoch memaparkan salah satu strategi bisnis kargo Sriwijaya Air Group selama PPKM ini adalah dengan mendedikasikan pesawat untuk menjadi pesawat khusus kargo dan mengoperasikan beberapa penerbangan tambahan untuk mengangkut kargo.

"Selama masa PPKM ini, tak bisa dipungkiri sektor transportasi barang bukan lagi hanya sebatas pendapatan sampingan dalam industri penerbangan. Seperti diketahui strategi pemerintah dalam memerangi Covid-19 adalah dengan membatasi mobilitas manusia tetapi tidak dengan mobilitas logistik," katanya, Jumat (6/8/2021).

Tak hanya itu, guna mengantisipasi kondisi tersebut, perusahaan telah melakukan berbagai penyesuaian dan strategi. Sejumlah strategi tersbeut antara lain penyesuaian produksi dan manajemen kapasitas.

Strategi manajamen kapasitas diambil dengan mempertimbangkan tingkat permintaan dan kondisi tiap-tiap daerah. Selain itu, paparnya, juga ada beberapa daerah yang belum dapat memfasilitasi masyarakat dalam memenuhi persyaratan melakukan perjalanan menggunakan transportasi udara sehingga penyesuaian rute tentu harus dilakukan. 

Terkait dengan adanya penyesuaian jadwal penerbangan tersebut, maskapai dengan jenis layanan medium tersebut telah menyiapkan kebijakan tiket yang fleksibel guna memudahkan para pelanggan. Misalnya dengan membebaskan biaya rebook/reschedule. 

"Sriwijaya Air Group juga memberikan fasilitas refund dalam bentuk e-voucher yang berlaku untuk satu tahun dan dapat digunakan untuk pembelian tiket atau produk Sriwijaya Air Group lainnya," imbuhnya.

Sebelumnya, Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan perusahaan juga melakukan penyesuaian jadwal penerbangan dan frekuensi dengan tingkat permintaan selama PPKM.

Maskapai dengan jenis layanan penuh tersebut meyakini masih dapat menggenjot pergerakan dari sisi kargo menghadapi rendahnya jumlah penumpang yang terimbas dari pengetatan mobilitas.

“Yang pasti Garuda akan terus menggenjot dan memastikan penerbangan berbasis kargo,” ujarnya, Selasa (3/8/2021).

Per Agustus 2021 ini Garuda juga telah memutuskan untuk mengoperasikan sebanyak 11 destinasi internasional dengan fokus utama penerbangan kargo. Sebelas penerbangan internasional yang dioperasikan adalah Singapura (SIN), Kuala Lumpur (KUL), Bangkok (BKK), Sydney (SYD), Shanghai (PVG), Guangzhou (CAN), Hong Kong (HKG), Jepang (HND), Korea Selatan (ICN), Belanda (AMS), serta Jeddah (JED).

Adapun, rute-rute tersebut akan dilayani dengan pesawat berbadan lebar atau wide body, freighter, serta operate flight.

“Rute ke Bangkok akan mengoperasikan freighter di samping wide body. Kemudian ke Hong Kong mengoperasikan freighter dan penerbangan kargo,” jelas Irfan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kargo udara PPKM
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top