Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Indonesia-Inggris Bisa Perkuat Perdagangan, Ini Caranya

Indonesia berpeluang untuk meningkatkan kinerja perdagangan dan investasi dengan Inggris.
Warga melewati Menara Bridge di London, Inggris, Kamis (9/4/2020). Saat Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berada di unit perawatan kritis karena Covid-19, sejumlah pejabat menyusun rencana untuk memperpanjang masa lock down untuk mengendalikan krisis karena virus corona. Bloomberg/Simon Dawson
Warga melewati Menara Bridge di London, Inggris, Kamis (9/4/2020). Saat Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berada di unit perawatan kritis karena Covid-19, sejumlah pejabat menyusun rencana untuk memperpanjang masa lock down untuk mengendalikan krisis karena virus corona. Bloomberg/Simon Dawson

Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia dinilai memiliki kesempatan untuk memperkuat hubungan perdagangan dengan Inggris lewat pemanfaatan rencana the Developing Country Trading Scheme (DCTS) dan Joint Economic and Trade Committee (JETCO) Indonesia-Inggris. Namun kesempatan ini memerlukan usaha pemerintah Indonesia untuk mengurangi hambatan perdagangan yang ada agar kesempatan ini bisa optimal.

“Indonesia bisa meningkatkan perdagangan dan investasi dari Inggris dengan memanfaatkan DCTS dan JETCO. Namun, Indonesia sendiri perlu terus meningkatkan kemudahan berusaha dan mengurangi hambatan perdagangan agar mampu bersaing dengan negara berkembang lainnya,” jelas Kepala Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta dalam siaran pers, Senin (26/7/2021).

Data Kementerian Perdagangan memperlihatkan nilai perdagangan antara Indonesia dan Inggris tergolong masih rendah. Pada 2019, ekspor Indonesia ke Inggris mencapai US$1,8 miliar, sementara impor dari Inggris mencapai US$ 965 juta.

Sementara itu, total impor dan ekspor Inggris pada tahun yang sama mencapai US$692,5 miliar dan US$468 miliar. Total nilai perdagangan Indonesia-Inggris hanya mencapai US$ 2,2 miliar pada tahun 2020.

Felippa mengatakan Indonesia memiliki peluang besar untuk mengekspor produk tekstil, alas kaki, minyak sawit, produk kehutanan, elektronik, karet, makanan olahan, udang, barang kerajinan, ikan, minyak atsiri, cokelat dan kopi ke pasar Inggris. Sebaliknya, Indonesia banyak mengimpor besi baja, mesin-mesin dan otomotif, kimia dasar, tekstil, barang-barang kimia lainnya, elektronika, produk farmasi, plastik, pengolahan aluminium, dan kosmetika.

Namun peluang meningkatkan ekspor ini diikuti tantangan dengan masih adanya hambatan tarif dan nontarif dalam regulasi perdagangan Indonesia dan isu keberlanjutan yang erat kaitannya dengan good agricultural practice (GAP) yang dilakukan oleh petani lokal.

“Hambatan perdagangan juga berpotensi menghambat investasi. Penelitian CIPS menemukan bahwa hambatan proteksionis pada perdagangan merupakan salah satu alasan investor enggan menanam modal asing di Indonesia,” kata Felippa.

Dunia usaha, yang menyambut baik reformasi investasi yang dimulai UU Cipta Kerja dan diteruskan Perpres 10/2021, perlu diyakinkan bahwa Kementerian Investasi mampu menghilangkan obesitas dan tumpang tindih regulasi di tingkat kementerian dan pemerintah daerah, yang sering menjadi sumber terhambatnya perizinan investasi.

Selain itu, Kementerian Perdagangan perlu terus berkoordinasi dengan Kementerian/Lembaga lain untuk mengurangi hambatan perdagangan.

Skema Perdagangan Negara Berkembang atau DCTS yang baru diluncurkan Inggris pasca Brexit meningkatkan peluang Indonesia yang sudah menandatangani Joint Economic and Trade Committee (JETCO) dengan Inggris, untuk memaksimalkan perdagangan dengan negara ini.

JETCO yang terbentuk atas rekomendasi dari Joint Trade Review (JTR) kedua negara, bertujuan untuk membuka peluang kerja sama perdagangan melalui peningkatan hubungan bilateral, identifikasi sektor potensial beserta hambatannya.

Mengutip pernyataan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, kedua negara sudah mengidentifikasi sembilan sektor potensial berikut hambatan dan peluang kerja samanya. Sektor potensial tersebut adalah pendidikan, makanan dan minuman serta produk pertanian, teknologi, obat-obatan dan pelayan kesehatan, infrastruktur dan transportasi, kayu dan produk kayu, energi terbarukan, jasa keuangan dan profesional, serta ekonomi kreatif.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper