Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Pajak Digital Global, AS Akan Tekan Eropa Setelah Kesepakatan G20

Janet Yellen akan mendesak UE untuk menunda perilisan rencananya untuk retribusi digital di seluruh blok pada penjualan online.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 12 Juli 2021  |  13:42 WIB
Pajak Digital Global, AS Akan Tekan Eropa Setelah Kesepakatan G20
Menteri Keuangan perempuan pertama di Amerika Serikat Janet Yellen - Bloomberg
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Keuangan Amerika Serikat Janet Yellen akan menekan pejabat Uni Eropa di Brussels minggu ini untuk mempertimbangkan kembali rencana mengusulkan pungutan digital, setelah mendapatkan dukungan G20 untuk prinsip-prinsip perjanjian pajak perusahaan global.

Yellen berada di Brussel pada Senin dan Selasa, 12 hingga 13 Juli 2021, setelah pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20 di Venesia, yang berakhir Sabtu dengan seruan kelompok itu untuk menyelesaikan rincian rencana global pada Oktober.

Yellen akan mendesak UE untuk menunda perilisan rencananya untuk retribusi digital di seluruh blok pada penjualan online. Komisi Eropa, badan eksekutif Uni Eropa, juga telah mengundur peluncuran hingga 20 Juli di tengah tekanan untuk menarik atau menunjukkan bahwa aturan itu kompatibel dengan upaya global tentang bagaimana dan di mana mengenakan pajak atas keuntungan perusahaan multinasional.

Beberapa pejabat Eropa sedang mempertimbangkan penundaan lebih lanjut dari setiap proposal retribusi digital hingga musim gugur, menurut orang yang mengetahui rencana tersebut.

Ditanya apakah pungutan yang direncanakan akan melanggar kesepakatan global, Yellen menghindari jawaban langsung tetapi memberi isyarat bahwa AS tidak puas dengan pembenaran UE untuk itu.

“Terserah Komisi Eropa dan anggota Uni Eropa untuk memutuskan bagaimana melanjutkannya, tetapi negara-negara itu telah sepakat untuk menghindari penerapan di masa depan, dan untuk membongkar pajak yang diskriminatif terhadap perusahaan AS,” kata Yellen, dilansir Bloomberg, Senin (12/7/2021).

Kesepakatan global dirancang untuk menghentikan perusahaan besar memindahkan kantor ke yurisdiksi dengan pajak rendah dan untuk membangun sistem yang lebih adil untuk mendistribusikan hak perpajakan pada perusahaan multinasional, berdasarkan di mana mereka beroperasi dan bukan di mana kantor pusat berada.

Komponen terakhir juga mencakup kesepakatan untuk mengakhiri apa yang disebut pajak layanan digital yang telah diterapkan beberapa negara Eropa untuk menargetkan pendapatan perusahaan teknologi besar seperti Facebook Inc. dan Google Alphabet Inc.

Adapun pejabat UE belum menyelesaikan rencana untuk pungutan di seluruh blok.

"Saya benar-benar berpikir kami dapat memperbaiki masalah ini, kami dapat meredakan kesulitan. Ada solusi dan saya yakin Komisi Eropa akan melakukan upaya terbaiknya untuk menemukan solusi dengan pemerintah Amerika," kata Menteri Keuangan Prancis Bruno Le Maire.

Yellen akan bertemu dengan menteri keuangan Uni Eropa secara kolektif hari ini, dan juga akan mengadakan pertemuan terpisah dengan Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan kepala perdagangan UE Valdis Dombrovskis.

Setelah sepakat untuk bersama-sama mengeluarkan utang 750 miliar euro untuk membayar pemulihan dari pandemi Covid-19, UE disibukkan dengan mencari sumber daya baru untuk membiayai rencana tersebut. Gagasan retribusi digital hanyalah salah satu opsi, yang juga dapat mencakup pajak kemasan plastik.

Yellen akan duduk dengan kepala digital blok itu, Margrethe Vestager, yang telah dia lobi tentang masalah pajak. Ketika ditanya pekan lalu tentang tekanan AS untuk menjatuhkan pungutan digital, Vestager menyatakan penolakannya.

"Diskusi yang kami lakukan di Eropa tentang sumber daya sendiri untuk mendanai rencana pemulihan dan ketahanan pada akhirnya - ini untuk kami dan kami akan berdiskusi secara internal di komisi tentang bagaimana menghadapinya," katanya.

Sejauh ini, 132 negara anggota Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) telah mendukung rencana global dua bagian tersebut. Selama akhir pekan, Yellen bersama dengan rekan-rekannya dari Jerman dan Prancis, masing-masing menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan pajak global yang diusulkan dapat mengatasi hambatan politik di Washington dan di dalam Uni Eropa pada waktunya untuk diselesaikan pada bulan Oktober.

Yellen mengatakan dia sangat optimistis bahwa Kongres AS akan meloloskan undang-undang musim gugur ini yang diperlukan untuk mengimplementasikan bagian dari kesepakatan yang menyerukan tarif pajak perusahaan minimum setidaknya 15 persen di seluruh negara.

Dia juga berharap Kongres dapat menangani bagian dari kesepakatan yang berhubungan dengan redistribusi hak pajak segera setelah musim semi 2022.

Para pemimpin Eropa menghadapi pertarungan internal mereka sendiri untuk mendapatkan persetujuan yang diadopsi di seluruh blok yang beranggotakan 27 negara.

Irlandia, Hungaria dan Estonia sejauh ini menolak untuk mendaftar pajak minimum, menciptakan hambatan potensial karena perlunya kebulatan suara tentang masalah pajak di dalam UE.

Komisi Uni Eropa sedang mengerjakan arahan untuk mengimplementasikan kesepakatan pajak global dan Menteri Keuangan Jerman Olaf Scholz telah menyatakan optimisme bahwa ketiga negara pada akhirnya akan mendukung kesepakatan itu. Mereka menentang pajak minimum efektif 15 persen.

Yellen akan bertemu dengan Paschal Donohoe, Menteri keuangan Irlandia, saat berada di Brussel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pajak g20 janet yellen pajak digital
Editor : Hadijah Alaydrus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top