Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BPK Temukan Potensi Kerugian Negara Rp16,62 Triliun di Semester II/2020

Potensi tersebut berasal dari temuan sebanyak 6.970 masalah yang dicatat BPK.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 23 Juni 2021  |  14:53 WIB
BPK Temukan Potensi Kerugian Negara Rp16,62 Triliun di Semester II/2020
Gedung BPK - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengungkap ada 5.070 temuan yang memuat 6.970 masalah dengan nilai Rp16,62 triliun sepanjang semester II/2020.

Berdasarkan ikhtisar hasil pemeriksaan semester (IHPS) II/2020, total masalah tersebut terdiri atas 1.956 permasalahan kelemahan sistem pengendalian internal dan 2.026 ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Angkanya ditaksir Rp12,64 triliun.

“Serta 2.988 (42 persen) permasalahan ketidakhematan, ketidakefisienan, dan ketidakefektifan sebesar Rp3,98 triliun,” tulis IHPS yang dikutip Rabu (23/6/2021).

Dari ketidakpatuhan sebanyak 2.026 permasalahan, sebanyak 1.173 dengan nilai Rp12,64 triliun merupakan ketidakpatuhan. Ini membuat kerugian negara sebanyak 729 sebesar Rp1,24 triliun.

Potensi kerugian yang diakibatkan 151 permasalahan sebesar Rp1,89 triliun dan kekurangan penerimaan sebanyak 293 permasalahan sebesar Rp9,51 triliun.

Selain itu, terdapat 853 permasalahan ketidakpatuhan yang mengakibatkan penyimpangan administrasi.

Sementara itu dari 2.988 permasalahan ketidakhematan, ketidakefisienan, dan ketidakefektifan sebesar Rp3,98 triliun, terdapat 175 permasalahan ketidakhematan sebesar Rp654,34 miliar.

“13 permasalahan ketidakefisienan sebesar Rp1,50 miliar, dan 2.800 permasalahan ketidakefektifan sebesar Rp3,33 triliun,” papar BPK di dalam IHPS II/2020.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bpk kerugian negara ihps
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top