Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Penjualan Bahan Makanan Turun Lebih Dalam di Ritel Tradisional

Pangsa untuk ritel modern meningkat dari 18 persen menjadi 20,30 persen. Pangsa tersebut setara dengan nilai US$19,70 miliar atau turun tipis dibandingkan dengan 2019 yang menyentuh US$20,70 miliar. 
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 07 Juni 2021  |  17:59 WIB
Konsumen memilih barang kebutuhan di salah satu gerai supermarket Giant di Jakarta, Minggu (23/6/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya
Konsumen memilih barang kebutuhan di salah satu gerai supermarket Giant di Jakarta, Minggu (23/6/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA — Turunnya nilai penjualan bahan makanan (grocery products) yang diikuti dengan naiknya pangsa pasar untuk ritel modern menjadi indikasi penurunan yang lebih dalam pada penjualan ritel lewat kanal tradisional.

Departemen Pertanian AS (USDA) menyebutkan nilai penjualan ritel produk grocery di Indonesia turun 15,65 persen dari US$115 miliar pada 2019 menjadi US$97 miliar pada 2020.

Pangsa untuk ritel modern meningkat dari 18 persen menjadi 20,30 persen. Pangsa tersebut setara dengan nilai US$19,70 miliar atau turun tipis dibandingkan dengan 2019 yang menyentuh US$20,70 miliar. 

Terlepas dari penurunan tersebut, peritel modern melihat penjualan produk bahan makanan lebih stabil dibandingkan dengan nonpangan.

Peneliti Senior Center of Reform on Economics (Core) Piter Abdullah menilai kenaikan pangsa penjualan produk bahan makanan di ritel modern dipengaruhi pula oleh preferensi konsumen yang memilih lokasi yang lebih aman saat pandemi.

“Untuk produk grocery kita sepakat tetap dibutuhkan masyarakat karena menyangkut kebutuhan pokok. Mungkin yang membuat penurunan adalah aktivitas belanja yang terbatas karena itulah penurunan terbesar terjadi di kanal tradisional. Sementara untuk lokasi dengan protokol kesehatan, yang jangkauan dekat, dan penjualan daring mengalami kenaikan,” kata Piter, Senin (7/6/2021).

Dia berpendapat bahwa tren berbelanja melalui ritel modern bakal berlanjut dan bisa diikuti dengan pulihnya berbelanja ke ritel tradisional. Namun, dia tetap berpandangan toko berformat kecil dan pelaku ritel yang memanfaatkan kanal penjualan daringlah yang akan menikmati pergeseran tersebut.

“Sementara untuk format supermarket dan hypermarket cenderung turun karena gaya hidup masyarakat berubah,” lanjutnya.

Piter mengatakan bahwa penjualan ritel di format besar yang bisa bertahan justru datang dari toko-toko khusus seperti Ranch Market dan The Foodhall yang secara spesifik menjual bahan makanan dengan kualitas tinggi.

Dia mengatakan format specialty store cenderung memiliki pasar yang terjaga dan hal ini bisa menjadi keuntungan pelaku usaha.

Sementara itu, pengamat masalah ritel dan Staf Ahli Hippindo Yongky Susilo menyebutkan pertumbuhan penjualan grocery products secara ritel bisa mencapai 12 sampai 15 persen setiap tahunnya, sedangkan segmen dry grocery yang khusus dijual di ritel modern format kecil maupun besar tumbuh 5 sampai 9 persen setiap tahunnya.

“Pasar grocery di ritel modern mencapai 25 persen. Untuk prospek ke depan masih bagus ketika ekonomi membaik, begitu pun untuk di pasar tradisional yang mulai berbenah,” kata Yongky.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri makanan dan minuman bisnis ritel
Editor : Zufrizal

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top