Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jual Bisnis Ritel di Asia, Citigroup Sebut Itu Kebutuhan Strategis

CEO Citigroup menegaskan upaya menjual bisnis ritelnya di Asia didasari oleh kebutuhan strategis untuk melakukan investasi tambahan dan memilihan investasi jangka panjang.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 26 April 2021  |  16:40 WIB
Gedung Citigroup. - Chris J Ratcliffe / Bloomberg
Gedung Citigroup. - Chris J Ratcliffe / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Keputusan Citigroup Inc. untuk keluar dari operasi perbankan ritel di 13 pasar di luar Amerika Serikat termasuk China sangat penting karena kemampuannya untuk memindahkan modal ke area yang dapat menghasilkan keuntungan lebih besar.

"Ini bukan tentang pasar tertentu atau daya tarik pasar konsumen individu. Ini tentang kebutuhan strategis untuk melakukan investasi tambahan di area tempat kami berada dalam posisi terbaik untuk membedakannya dalam jangka panjang," kata Peter Babej, CEO Citi Asia Pasifik dalam sebuah memo kepada staf, dilansir Bloomberg, Senin (26/4/2021).

Babej menyoroti peningkatan 13 persen year-on-year sebesar US$5,2 miliar dalam aliran masuk bersih baru untuk wilayah tersebut pada kuartal pertama.

Dengan raihan itu, Citi mengalami kuartal terbaik yang pernah ada, dengan pendapatan naik 2 persen. Pendapatan investment banking melonjak 84 persen, didorong oleh berlanjutnya momentum aktivitas pasar modal ekuitas.

Bank tersebut tidak memerinci jumlah operasi Asia yang berbeda dalam laporan pendapatan kuartal pertamanya. Seorang juru bicara yang berbasis di Hong Kong mengkonfirmasi isi memo itu.

Citigroup mengumumkan rencana untuk menjual operasi perbankan ritel di 13 pasar di seluruh kawasan Asia-Pasifik, Eropa dan Timur Tengah seiring dengan rencana untuk menyempurnakan jaringan cabang globalnya. Penjualan itu bisa mencapai US$6 miliar, kata orang yang mengetahui rencana itu.

Secara keseluruhan, operasi bank di Asia memiliki pendapatan bersih US$1,3 miliar dan pendapatan US$4,1 miliar, memberikan kontribusi 21 persen secara global. Perdagangan elektronik di pasar dan divisi layanan sekuritas meningkat secara signifikan, dengan arus perdagangan e-FX naik 15 persen.

Bank menggabungkan bisnis swasta dan manajemen kekayaannya pada Januari di bawah kepemimpinan Jim O'Donnell, kepala divisi kekayaan global. Waralaba kekayaan di Asia sekarang akan dipimpin oleh Fabio Fontainha dan Steven Lo, yang saat ini masing-masing memimpin unit perbankan ritel dan perbankan swasta di kawasan itu.

"Ke depan, kami memiliki momentum yang sangat baik, strategi yang tajam, dan peluang yang luar biasa di seluruh wilayah kami. Kami juga memiliki komitmen yang jelas untuk bekerja melalui perubahan dan transformasi," kata Babej.

Bank tersebut pada bulan ini mengumumkan rencana untuk menambah US$ 150 miliar aset klien pada 2025 dari US$ 310 miliar saat ini. Citigrohttps://www.bisnis.com/topic/1407/citigroupup juga berencana untuk mempekerjakan 1.100 manajer hubungan dan bankir swasta di Asia.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank citigroup

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top