Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

India Hambat Suplai Vaksin, Begini Seruan Menlu Retno

Retno menyebutkan bahwa saat ini muncul berbagai pembatasan dan pelarangan ekspor dari negara produsen vaksin Covid-19. Alasan para negara produsen untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 02 April 2021  |  18:30 WIB
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi bersiap mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi I DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (26/1/2021). ANTARA FOTO - Muhammad Adimaja
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi bersiap mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi I DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (26/1/2021). ANTARA FOTO - Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi menyerukan kepada negara produsen vaksin Covid-19 untuk memberikan vaksin kepada semua negara.

Seruan ini disampaikan usai Menlu, Menteri BUMN Erick Thohir dan Menteri Perdagangan Muhammad Luthfi mengunjungi China, Jumat (2/4/2021).

“Saya sebagai co-chair Covax, saya memiliki tanggung jawab moral untuk terus menyerukan kerja sama agar kesetaraan vaksinasi untuk semua negara dapat terlaksana,” katanya melalui konferensi virtual, Jumat (2/4/2021).

Retno menyebutkan bahwa saat ini muncul berbagai pembatasan dan pelarangan ekspor dari negara produsen vaksin Covid-19. Alasan para negara produsen untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Padahal lanjutnya, sejumlah negara sedang menghadapi lonjakan kasus. Pembatasan dan pelarangan ini dinilai akan berpengaruh pada laju rantai pasok bagi dunia baik melalui jalur bilateral maupun multilateral.

Menurutnya, bila pembatasan dan pelarangan ekspor vaksin terus terjadi akan semakin lama dunia terlepas dari pandemi secara bersama. Selain itu, kondisi tersebut juga akan memperlambat pemulihan ekonomi dunia.

Di sisi lain, dia menyebutkan bahwa pertemuan dengan pejabat Kementerian Luar Negeri China, Retno membahas kembali kerja sama vaksin baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.

Adapun kerja sama jangka pendek yang dimaksud adalah komitmen China agar mengirimkan vaksin ke Indonesia sesuai jadwal. Sementara itu jangka panjang dibahas pula rencana Indonesia menjadi hub vaksin bagi Asia Tenggara.

Sebelumnya, PT Bio Farma (Persero) mengatakan bahwa ada kemungkinan suplai vaksin Covid-19 tersendat. Pasalnya, India yang merupakan produsen vaksin terbesar di dunia, melaporkan kenaikan positivity rate virus Corona. 

Dengan demikian negara tersebut akan mendahulukan kebutuhan dalam negerinya. "Kami sedang koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri untuk juga bisa melakukan diplomasi, bagaimana seandainya suplai ke Indonesia yang sudah terjadwal bisa dilakukan sesuai jadwal," kata Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Senin (29/3/2021).

Honesti menjelaska nsuplai vaksin dari fasilitas Covax-GAVI tersebut dinilai krusial terhadap pasokan vaksin di Indonesia dan memengaruhi laju kecepatan vaksinasi di negara ini.

"Kita tidak mau terganggu karena kecepatan vaksinasi menunjukkan sekarang yang dilakukan pemerintah menunjukkan kenaikan. Tadinya 100 ribu-200 ribu per hari, sekarang menuju 500 ribu vaksinasi per hari," katanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kemenlu Covid-19 Vaksin Covid-19
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top