Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Saham Freeport atau Tsingshan yang Mayoritas di Proyek Smelter Tembaga?

Bila nantinya opsi kerja sama dengan Tsingshan yang dipilih, sebagian besar biaya investasi pembangunan smelter akan ditanggung oleh Tsingshan.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 01 April 2021  |  11:57 WIB
Aktivitas di tambang Freeport, Papua. - Bloomberg/Dadang Tri
Aktivitas di tambang Freeport, Papua. - Bloomberg/Dadang Tri

Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan asal China, Tsingshan Steel, berpotensi memiliki saham mayoritas dalam proyek smelter tembaga PT Freeport Indonesia yang rencananya dibangun di Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara.

Dalam rangka memenuhi komitmen pembangunan smelter, Freeport berencana melakukan kerja sama dengan Tsingshan untuk membangun smelter di Halmahera sebagai alternatif dari rencana pembangunan smelter Freeport di Gresik, Jawa Timur.

Group CEO MIND ID Orias Petrus Moedak mengungkapkan bahwa bila nantinya opsi kerja sama dengan Tsingshan yang dipilih, sebagian besar biaya investasi pembangunan smelter akan ditanggung oleh Tsingshan. Hal ini karena porsi kepemilikan saham Freeport di proyek tersebut akan minoritas.

"Porsi kami akan minoritas di sana. Kami akan sekitar 25 persen atau 30 persen dan 70 persen adalah mitra dari China, yakni Tsingshan. Itu struktur yang diperhitungkan supaya dana yang akan dikeluarkan oleh Freeport itu tidak terlalu besar," ujar Orias dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR, Rabu (31/3/2021).

Menurutnya, perhitungan tersebutlah yang membuat pihaknya mempertimbangkan opsi alternatif pembangunan di Halmahera sebab bila smelter tetap dibangun di Gresik, pembiayaannya sepenuhnya akan dilakukan oleh Freeport melalui pinjaman. Nilai investasi pembangunan smelter di Gresik diperkirakan menelan biaya sekitar US$3 miliar.

Dengan demikian, secara tidak langsung pihak Indonesia sebagai pemegang saham 51 persen di Freeport akan menanggung biaya investasi sekitar US$1,5 miliar.

"Porsi tanggungan kita 51 persen. Itu sebenarnya tidak langsung kita tanggung sekitar US$1,5 miliar melalui operasionalnya Freeport di mana kita sebagai pemegang saham kami akan atur pembiayaannya dilakukan langsung oleh Freeport dan tentu itu akan kurangi laba yang tersedia untuk dibagi," katanya.

Adapun, opsi rencana kerja sama dengan Tsingshan untuk pembangunan smelter di Halmahera, kata Orias, hingga saat ini belum ada keputusan yang diambil. Sampai keputusan final disepakati, pihaknya masih berkomitmen untuk serius melaksanakan pembangunan smelter di Gresik.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Freeport smelter
Editor : Zufrizal

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top