Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kabar Pasar: Pemerintah Berburu Objek Pajak

Harian Bisnis Indonesia menyoroti upaya pemerintah berburu objek pajak baru karena seretnya pemasukan pajak akibat pandemi Covid-19.
Ika Fatma Ramadhansari
Ika Fatma Ramadhansari - Bisnis.com 09 Maret 2021  |  07:42 WIB
Ilustrasi - Masyarakat Denpasar melakukan pembayaran pajak - Istimewa
Ilustrasi - Masyarakat Denpasar melakukan pembayaran pajak - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Kabar dari sejumlah sektor ekonomi yang menjadi sorotan harian Bisnis Indonesia edisi hari ini, Selasa (9/3/2021), pemerintah saat ini tengah berburu objek pajak baru karena seretnya pemasukan pajak akibat pandemi Covid-19 yang melanda.

Selain itu, Bisnis juga menyoroti emiten CPO yang mengalami panen laba pada 2020 saat pandemi menyerang, dan juga harga pangan yang meradang dan beberapa negara akan mengalami lonjakan harga.

Berikut beberapa rincian isu-isu terkini seputar perekonomian di Indonesia:

1. Pemerintah Berburu Sumber Pajak

Pemerintah bakal memperluas basis pajak di tiga industri pengolahan yaitu makanan dan minuman, farmasi, dan alat kesehatan yang bertujuan untuk mendongkrak penerimaan negara pada 2021.

Ketiga industri ini memiliki kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) yang besar yaitu 50 persen. Sehingga nilai potensi dan tax gap cukup signifikan. Alasan lain pemerintah memilih tiga industri tersebut adalah melihat kemampuan membayar pajak yang tinggi.

2. Emiten CPO Panen Laba

Sejumlah emiten perkebunan berskala besar berhasil memanen laba besar pada 2020 karena didukung tren kenaikan harga minyak sawit atau crude palm oil (CPO).

Berdasarkan catatan Bisnis, sebanyak 5 emiten perkebunan yang telah melaporkan kinerja keuangan 2020 kompak mencetak pertumbuhan laba bersih. PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) memimpin dengan mencetak pertumbuhan yoy hingga 294,62 persen menjadi Rp833,09 miliar.

3. Investasi SBN Bakal Lebih Stabil

Pasar surat berharga negara (SBN) kini kian dalam seiring dengan pesatnya kenaikan jumlah investor akhir-akhir ini. Kondisi ekonomi yang kini belum cukup stabil pun akan meningkatkan daya tarik SBN dan menarik minat investor baru pada instrumen-instrumen baru, terutama SBN ritel.

Berdasarkan data KSEI per akhir Februari 2021 jumlah single investor identification (SID) investor SBN mencapai 497.064 investor, naik 7,97 persen dari posisi 460.372 investor pada akhir 2020.

4. Otoritas Pajak Bidik Crazy Rich

Pemerintah bakal menyasar masyarakat kaya dan superkaya atau wajib pakak strategis (high-wealth individual) sebagai sumber pendapatan baru di tengah seretnya prosprek penerimaan pajak pada tahun ini akibat ekonomi yang terimpit pandemi Covid-19. Pemerintah menyasar wajib pajak ini dengan alasan besarnya potensi dan kedudukannya sebagai beneficial owner dari seluruh bisnis usaga yang dijalankan.

5. Pangan Meradang, Inflasi Mengadang

Harga pangan global memecahkan rekor tertinggi dalam 6 tahun terakhir, di tengah aksi borong stok oleh China. Dampaknya, ruang gerak bank sentral di seluruh dunia untuk mengucurkan tambahan stimulus pun makin sempit.

Menurut laporan indeks harga pangan terbaru dari FAO, nominal komoditas pangan mengalami reli kenaikan selama 9 bulan berturut-turut, sekaligus terpanjang sejak 2008. FAO memperkirakan sekitar 45 negara yang memiliki ketergantungan tinggi pada impor, perekonomiannya akan terpengaruh lonjakan harga pangan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pajak kabar pasar
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top