Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Sri Mulyani: Pemimpin Harus Pantang Menyerah

Hal yang membedakan pemimpin atau bukan adalah apakah dia betul-betul lumpuh dan dikuasasi oleh masalah atau bangun dan bisa mengatasinya.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat mengikuti rapat kerja antara Komisi XI DPR RI dengan pemerintah di kompleks parlemen, Jakarta, Senin (2/12/2019)./Bisnis-Arief Hermawan P
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat mengikuti rapat kerja antara Komisi XI DPR RI dengan pemerintah di kompleks parlemen, Jakarta, Senin (2/12/2019)./Bisnis-Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan elemen sikap yang dimiliki pemimpin adalah tidak pernah menyerah atas apa yang tengah dihadapi.

Menurutnya, setiap orang memiliki tantangan. Hal itu ada di setiap level dan tahap kehidupan.

“Yang membedakan pemimpin atau orang bermanfaat atau tidak adalah orang yang saat dihadapi tantangan dia menyerah, dia betul-betul lumpuh dan dikuasasi oleh masalah atau dia bisa bangun. Dia bisa mengatasinya,” kata Menkeu dalam diskusi virtual, Sabtu (6/3/2021).

Sri Mulyani menjelaskan pemimpin itu mungkin saja tidak bisa menyelesaikan tantangan yang dihadapi. Akan tetapi, dia tak mau menyerah.

Semangat tersebut tidak membedakan jenis kelamin. Oleh karena itu Sri Mulyani meyakini semua kaum hawa memiliki sikap dan layak menjadi pemimpin.

Modal memiliki sifat pemimpin adalah sensitif terhadap lingkungan sekitar. Dari kendala yang ada, mereka siap membantu.

Oleh karena itu, ciri pemimpin ujar Sri Mulyani adalah peduli dan ingin membantu orang lain. Hal itu sangat khas dan menjadi aset yang berharga.

“Mereka selalu care pada yang lain, bukan dirinya. Yaitu kepedulian dan keinginan untuk melakukan sesuatu yang membantu orang lain,” jelasnya.

Sementara itu, berdasarkan data Plan International, 62 persen dari 10.000 anak dan kaum muda perempuan yang disurvei di 19 negara yakin dengan kemampuan mereka untuk memimpin.

Lalu, 76 persen secara aktif ingin menjadi pemimpin dalam karier, komunitas, atau di negara mereka.

Namun hingga kini anak perempuan di berbagai pelosok masih menghadapi berbagai hambatan untuk maju.

Bahkan, Plan International mencatat masih ada 65 juta anak perempuan yang tidak bisa mengakses pendidikan.

Hal itu menunjukkan anak perempuan punya keinginan kuat untuk maju, namun masih menghadapi berbagai hambatan.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Saeno
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper