Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Industri Berorientasi Ekspor Bisa Tarik Investasi Baru, Asal...

Industri pengolahan berorientasi ekspor dinilai bisa menjadi daya tarik investasi baru selama produknya memenuhi keunggulan komparatif.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 25 Februari 2021  |  22:54 WIB
Ilustrasi. Pekerja mengeluarkan biji nikel dari tanur dalam proses furnace di smelter PT. Vale Indonesia di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Sabtu (30/3/2019). - ANTARA/Basri Marzuki
Ilustrasi. Pekerja mengeluarkan biji nikel dari tanur dalam proses furnace di smelter PT. Vale Indonesia di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Sabtu (30/3/2019). - ANTARA/Basri Marzuki

Bisnis.com, JAKARTA - Ekonom menilai daya tarik investasi baru di industri pengolahan berorientasi ekspor bakal sangat bergantung pada keunggulan komparatifnya. Industri dengan bahan baku di dari dalam negeri dinilai akan lebih potensial meski pemerintah menawarkan kemudahan pengadaan bahan baku impor.

“Investasi ini akan sangat tergantung apakah produknya memiliki keunggulan komparatif, misal di industri pengolahan nikel kita jelas unggul sehingga ekspornya naik untuk produk turunan,” kata Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal saat dihubungi, Kamis (25/2/2021).

Dia memberi catatan bahwa hal serupa belum tentu terjadi pada industri berorientasi ekspor lainnya yang memiliki ketergantungan bahan baku impor cukup tinggi. Sejumlah tantangan fundamental investasi di dalam negeri acap kali membuat Indonesia kalah bersaing dengan peer countries seperti Vietnam dan Thailand.

“Insentif pajak, kemudahan bahan baku dan lainnya ini sebenarnya juga ditawarkan negara lain. Namun perlu dicatat bahwa kendala fundamental investasi bukan itu saja. Ada masalah logistik dan biaya energi yang terkadang membuat produk RI tidak bersaing di pasar luar,” tuturnya.

Hambatan fundamental inilah yang justru membuat daya tarik investasi di Indonesia terkadang hanya terbatas pada besarnya pasar dalam negeri. Faisal berpendapat hal inilah yang harus dibenahi agar investasi yang masuk bisa dioptimalisasi untuk meningkatkan devisa ekspor.

Kepala Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri mengemukakan lahirnya investasi di bidang usaha berorientasi ekspor sejatinya tidak melulu didorong oleh kehadiran insentif yang ditawarkan pemerintah. Lebih dari itu, kondisi lingkungan bisnis akan sangat memengaruhi keberlanjutan investasi.

“Export oriented bukan hanya soal insentif, namun apakah lingkungan usahanya mendukung atau tidak. Ini bisa dilihat dari peraturan investasi, aturan perdagangan dan ketenagakerjaannya. Ini yang lebih penting daripada insentif fiskal,” kata Yose.

Dia mengemukakan aspek yang dicari para investor sejatinya adalah jaminan keamanan investasi yang mereka tanamkan, salah satunya dari sisi perdagangan. Dia mengilustrasikan kebijakan kewajiban komponen dalam negeri yang bisa jadi malah mengambat lahirnya investasi baru.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top