Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Realisasi TKDN PLN di Bawah Target, Ini Penyebabnya

Realisasi rata-rata penggunaan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) oleh PT PLN (Persero) hanya 40,13 persen pada 2020.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 24 Februari 2021  |  18:30 WIB
Pekerja melintas di depan tempat penguapan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Nagan Raya,  di Nagan Raya, Aceh, Senin (28/9/2020). PLTU Nagan Raya memproduksi sekitar 220 Megawatt yang didistribusikan ke sejumlah unit transmisi untuk memenuhi kebutuhan energi listrik di seluruh Aceh. ANTARA FOTO - Irwansyah Putra
Pekerja melintas di depan tempat penguapan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Nagan Raya, di Nagan Raya, Aceh, Senin (28/9/2020). PLTU Nagan Raya memproduksi sekitar 220 Megawatt yang didistribusikan ke sejumlah unit transmisi untuk memenuhi kebutuhan energi listrik di seluruh Aceh. ANTARA FOTO - Irwansyah Putra

Bisnis.com, JAKARTA - Realisasi rata-rata penggunaan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) oleh PT PLN (Persero) hanya 40,13 persen pada 2020.

Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini mengakui bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini sebagian besar capaian TKDN masih belum mencapai target sesuai aturan pemerintah.

"Berdasarkan hal tersebut, PLN sangat membutuhkan sinergi, dukungan, dan keterbukaan semua stakeholder dalam implementasi TKDN sehingga dengan harapan keterlibatan industri dalam negeri sebagai mitra kerja dalam proyek ketenagalistrikan bisa berjalan optimal dan sesuai kondisi dan kapabilitas industri terkini," ujar Zulkifli dalam webinar Peran TKDN Ketenagalistrikan dalam Pembangunan Nasional, Rabu (24/2/2021).

PLN mencatat capaian TKDN yang rendah terutama ada di proyek-proyek pembangkit listrik. Realisasinya pada 2020 mencapai 29,33 persen. Hal ini disebabkan belum banyaknya komponen pembangkit, terutama pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), yang mampu disediakan oleh industri dalam negeri sehingga perseroan masih harus impor.

"TKDN transmisi kami sudah hampir dekati ketentuan. Gardu induk masih agak jauh karena masih banyak komponen yang impor, seperti trafo, dan lainnya. Lebih susah lagi memang yang di pembangkit. Harapan kami bisa tingkatkan terus pembangkit yang sudah siap, seperti PLTA atau PTLMh yang komponen lokalnya bisa kami tingkatkan," kata EVP Perencanaan dan Engineering Konstruksi PLN Anang Yahmadi.

Sementara itu, Direktur Pusat Pengkajian Industri Manufaktur, Informatika, dan Elektronika BPPT Andhika Prastawa mengatakan rendahnya TKDN di proyek pembangkit listrik PLN harus menjadi perhatian utama.

Menurutnya, sejumlah komponen pembangkit memang belum banyak yang dikuasai oleh industri dalam negeri. Namun, saat ini beberapa diantaranya sudah mampu diproduksi dalam negeri.

"Dari sekian banyak bagian pembangkit yang sudah banyak dilakukan pabrikan Indonesia adalah balance of plant. Walaupun bobotnya baru 17 persen, tetapi pelakunya sudah cukup banyak. Boiler, sepanjang itu nonpresure part itu sudah bisa dikuasai dan dibuat dalam negeri," katanya.

Dia pun berharap TKDN di proyek pembangkit ke depannya dapat ditingkatkan lagi sehingga rata-rata TKDN proyek-proyek PLN secara keseluruhan bisa memenuhi regulasi pemerintah.

Dia menuturkan bahwa investasi ketenagalistrikan merupakan investasi padat modal dan angkanya sangat besar. Dalam perhitungannya, setidaknya untuk 100 unit pembangkit kapasitas 100 MW setara dengan bisnis Rp1.000 triliun dalam kurun waktu 10 tahun.

"Sehingga kemudian bila ada sekian persen yang kemudian itu adalah porsi pembelanjaan dalam negeri, tentunya akan besar juga nilainya untuk memutar roda perindustrian dan roda ekonomi dalam negeri," katanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

PLN TKDN
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top