Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ritel AS Mulai Bangkit, Prospek Ekonomi Membaik

Perbaikan kemampuan masyarakat untuk berbelanja dan makan di luar, ditambah dengan putaran terbaru pembayaran stimulus senilai US$600, membantu memicu kenaikan penjualan ritel di semua kategori utama bulan lalu.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 18 Februari 2021  |  10:59 WIB
Joe Biden (kiri) saat dilantik sebagai Presiden ke-46 Amerika Serikat di Front Barat Capitol AS di Washington, Amerika Serikat, Rabu (20/1/2021). - Antara/Reuters\r\n
Joe Biden (kiri) saat dilantik sebagai Presiden ke-46 Amerika Serikat di Front Barat Capitol AS di Washington, Amerika Serikat, Rabu (20/1/2021). - Antara/Reuters\\r\\n

Bisnis.com, JAKARTA - Perekonomian AS memulai 2021 dengan lonjakan penjualan ritel dan output pabrik, mendorong prospek pertumbuhan ekonomi terbaik dalam hampir empat dekade.

Data Departemen Perdagangan menunjukkan, penjualan ritel pada Januari 2021 naik 5,3 persen, angka tertinggi dalam tujuh bulan terakhir setelah Desember yang mengecewakan. Sementara itu, output pabrik naik lebih dari yang diharapkan bulan lalu dan ukuran harga produsen juga terkerek paling tinggi terbesar sejak 2009.

Setelah lonjakan infeksi Covid-19 mengekang pengeluaran pada akhir tahun lalu, kasus telah surut dan negara mulai mengurangi beberapa pembatasan pada bisnis dan aktivitas. Kemampuan untuk berbelanja dan makan di luar, ditambah dengan putaran terbaru pembayaran stimulus senilai US$600, membantu memicu kenaikan penjualan ritel di semua kategori utama bulan lalu.

"Laporan tersebut menunjukkan bahwa ketika bantuan fiskal masuk ke neraca rumah tangga, itu berbalik dengan cukup cepat dan terwujud dalam aktivitas ekonomi,” kata Michael Gapen, kepala ekonom AS di Barclays Plc, dilansir Bloomberg, Kamis (18/2/2021).

Dia melanjutkan, dengan paket stimulus lain yang kemungkinan akan cair pada Maret, kemungkinan akan mengerek permintaan dan pengeluaran rumah tangga pada kuartal kedua, yang dapat dilanjutkan jika vaksinasi terus berjalan, dan mobilitas secara bertahap pulih dari waktu ke waktu.

Menurut survei bulanan terbaru ekonom oleh Bloomberg News, ekspektasi pertumbuhan produk domestik bruto meningkat untuk kuartal pertama dan setiap periode tiga bulan berikutnya hingga pertengahan 2022. Pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan akan menjadi yang terkuat sejak 1984, ketika Ronald Reagan dari Partai Republik menjadi presiden.

Namun, pengeluaran jasa tetap tertekan, dan tidak jelas berapa lama sampai vaksinasi yang meluas memungkinkan dimulainya kembali bisnis. Pengangguran tetap tinggi dan jutaan orang Amerika berjuang untuk membayar tagihan mereka, menggarisbawahi tantangan yang lebih tahan lama yang dihadapi ekonomi di bulan-bulan mendatang.

Data terbaru itu dapat semakin menguatkan oposisi Partai Republik terhadap rencana stimulus Presiden Joe Biden sebesar US$1,9 triliun, yang menurut banyak pihak terlalu besar. Meski begitu, Demokrat berada di jalur yang tepat untuk mengupayakan lolosnya paket stimulus tanpa suara dari Partai Republik, dan data tersebut juga dapat digunakan sebagai bukti betapa pentingnya bantuan bagi ekonomi dan pekerjaan.

Adapun imbal hasil Treasury AS sempat menyentuh level tertinggi satu tahun dan S&P 500 turun untuk hari kedua. Selain menyoroti permintaan yang lebih kuat, data itu juga mengilustrasikan rendahnya inflasi.

Penggunaan bensin naik 4 persen, yang sebagian mencerminkan harga bahan bakar yang lebih tinggi. Angka eceran tidak disesuaikan dengan perubahan harga. Pada akhir Januari, harga rata-rata nasional untuk satu galon bensin adalah US$2,42, kira-kira setara dengan harga sebelum pandemi.

Data lain dari Departemen Tenaga Kerja menunjukkan harga produsen naik 1,3 persen pada Januari, kenaikan terbesar dalam rekor sejak 2009, didorong oleh keuntungan berbasis luas dalam kategori termasuk energi dan makanan.

Sebuah laporan minggu lalu menunjukkan indeks harga konsumen inti tidak berubah pada Januari untuk bulan kedua berturut-turut, menunjuk pada tekanan pandemi pada inflasi.

Sebuah laporan terpisah dari Federal Reserve menunjukkan manufaktur memperpanjang pemulihannya pada awal 2021. Output naik lebih dari perkiraan pada Januari, meskipun tetap 1,9 persen di bawah level prapandemi.

Selain itu, angka-angka dari National Association of Home Builders menunjukkan kepercayaan di antara perusahaan konstruksi perumahan sedikit meningkat pada Februari karena daya pikat suku bunga rendah menghasilkan lebih banyak lalu lintas pembeli prospektif. Namun, kenaikan biaya konstruksi mengancam perlambatan permintaan.

Faktor penyesuaian musiman juga berperan dalam angka ritel yang lebih kuat dari perkiraan. "Kami tidak melihat peningkatan tipikal dalam penjualan ritel selama musim liburan, yang berarti penurunan yang disesuaikan secara musiman," kata Stephen Stanley, kepala ekonom di Amherst Pierpont Securities.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi amerika serikat stimulus Joe Biden
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top