Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Low Season 2021 Bisa Lebih Buruk, Maskapai Makin 'Sesak Napas'

Jaringan Penerbangan Indonesia (Japri) memprediksi low season tahun ini bisa lebih buruk dan mempengaruhi napas industri penerbangan hingga akhir 2021.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 16 Februari 2021  |  17:54 WIB
Bandara Hang Nadim, Batam.  - batam/airport.com
Bandara Hang Nadim, Batam. - batam/airport.com

Bisnis.com, JAKARTA – Kuartal II/2021 hingga kuartal III/2021 akan menjadi periode yang menentukan bagi keberlanjutan industri penerbangan setelah melalui low season pada kuartal I/2021.

Pemerhati penerbangan dari Jaringan Penerbangan Indonesia (Japri) Gerry Soedjatman mengatakan biasanya pada low season ini, napas maskapai memang kembali tersengal-sengal. Penurunan jumlah penumpang pada periode ini akan berada jauh di bawah kuartal I/2020.

Menurutnya, enam bulan setelah kuartal I/2021 menjadi penentu bagi ketahanan maskapai karena biasanya puncak terbesar jumlah penumpang biasanya terjadi pada musim lebaran.

“Lebaran tahun ini di kuartal II/2021. Tak hanya soal kebijakan tetapi juga bagaimana penumpang nantinya lebaran dan musim libur tengah tahun menjadi periode paling penting,” ujarnya, Rabu (16/2/2021).

Menurutnya, masa pemulihan menjadi sangat penting karena maskapai saat ini bisa bertahan hidup setelah menunda pembayaran, negosiasi sewa dan menekan biaya-biaya lainnya. Namun, tentunya, pembiayaan yang bersifat penundaan ini tidak bisa selamanya dilakukan oleh maskapai, seperti gaji, tunjangan hari raya, dan lainnya.

Gerry pun mengaku cukup khawatir akan keberlangsungan maskapai pada tahun ini karena setelah melihat angka penumpang pada Desember lalu hanya mencapai 55 persen dibandingkan dengan penumpang pada Desember 2019.

“Intinya sih, semuanya memang tergantung dengan perkembangan wabah ini,” tekannya.

Sementara itu, Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Novie Riyanto mengatakan telah menganggarkan lebih dari Rp200 miliar untuk subsidi bagi penumpang pesawat pada 2020. Menurutnya kendati subsidi ini diberikan kepada penumpang tetapi dampaknya secara tak langsung menaikkan tingkat keterisian atau load factor maskapai.

“Pada 2021 Kami sudah berjuang memasukan usulan ini kembali dilakukan perpanjangan memberikan subsidi kepada penumpang sehingga harapan kami stimulus kepada penumpang untuk dapat melakukan penerbangan domestik ini tetap bisa survive,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

maskapai penerbangan
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top