Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Begini Cara Pemerintah Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca

Target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) nasional pada 2030 sebesar 834 juta ton CO2e (ekuivalen karbon dioksida), sebesar 314 juta ton ditargetkan dari sektor energi.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 28 Januari 2021  |  12:20 WIB
Gas rumah kaca. - Ilustrasi
Gas rumah kaca. - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah terus mendorong pengembangan energi baru dan terbarukan untuk mengejar target penurunan emisi.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif mengatakan bahwa dari target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) nasional pada 2030 sebesar 834 juta ton CO2e (ekuivalen karbon dioksida), sebesar 314 juta ton ditargetkan dari sektor energi.

"Yang paling signifikan turunkan emisi adalah mendorong pelaksanaan strategi pengembangan EBT," ujar Arifin dalam webinar Sustainable Energy: Grean and Clean, Kamis (28/1/2021).

Sejumlah pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) tengah didorong sebagai salah satu aksi mitigasi GRK, antara lain melalui program co-firing biomassa pada PLTU yang ditargetkan dapat menurunkan emisi sebesar 1,7 juta ton CO2e per tahun dan pengembangan pembangkit tenaga sampah.

Kemudian, melalui program konversi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dengan pembangkit EBT atau pembangkit gas. Pada tahap pertama, ada 927 unit PLTD di 200 lokasi dengan kapasitas 225 megawatt (MW) yang akan dikonversi.  Program konversi ini ditargetkan dapat menurunkan emisi sebesar 0,74 juta ton CO2e.

Upaya pengembangan EBT lainnya adalah melalui pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) skala besar dan PLTS atap.

Pada 2021—2030, kata Arifin, terdapat rencana pengembangan PLTS skala besar sebesar 5,3 GW dan rencana pengembangan PLTS atap sebesar 2 GW.  Target penurunan emisi dari kedua program tersebut masing-masing sebesar 7,96 juta ton CO2 dan 3,2 juta ton CO2.

Program pengurangan emisi GRK lain yang sedang gencar dilakukan, yaitu kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

"Saat ini kami sedang menyusun grand strategy energi nasional. Dalam draf grand strategy tersebut, salah satu upaya menghentikan impor BBM dilakukan dengan mendorong program kendaraan listrik sebanyak 2 juta unit mobil dan 13 juta unit motor tahun 2030. Upaya tersebut diharapkan dapat menggantikan konsumsi BBM sekitar 77.000 barel per hari sehingga menurunkan emisi GRK sebesar 7,23 juta ton CO2e," kata Arifin.

Adapun, realisasi hingga 2020, penurunan emisi CO2 sektor energi mencapai 64,4 juta ton atau 111 persen dari target sebesar 58 juta ton.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

energi terbarukan emisi gas rumah kaca
Editor : Zufrizal

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top