Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Properti Ritel Terus Tertekan Pandemi Covid-19

Kondisi properti ritel terus mengalami tekanan akibat penerapan kebijakan yang ditujukan untuk menekan risiko penularan Covid-19.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 18 Januari 2021  |  21:04 WIB
Properti Ritel Terus Tertekan Pandemi Covid-19
Suasana sepi terlihat di salah satu pusat perbelanjaan di Depok, Jawa Barat, Minggu (27/12/2020)./Bisnis - Himawan L. Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jawa dan Bali sangat menekan kondisi properti ritel.

Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD Jakarta Ellen Hidayat mengatakan kondisi pusat perbelanjaan sangat tertekan sejak April hingga ini akibat adanya pembatasan karena sedikitnya trafik pengunjung. 

Pada akhir tahun, trafik pengunjung yang diperbolehkan untuk pusat perbelanjaannya mencapai 50 persen. Namun, adanya kebijakan pembatasan jam operasional yang hanya diperbolehkan sampai jam 20.00 ini berdampak trafik pengunjung yang datang ke pusat perbelanjaan hanya 40 persen.

"PPKM Desember yang tutup jam 19.00 ini membuat trafik pengunjung ke pusat perbelanjaan berkurang dan semakin parah. Ditambah lagi adanya kebijakan dine in hanya 25 persen dan WFH untuk perusahaan hanya 25 persen. Padahal, pengunjung mal pada saat hari biasa sangat diramaikan oleh pegawai," ujarnya dalam konferensi pers secara virtual pada Senin (18/1/2021).

Dia mengungkapkan sejak 11 Januari, jumlah pengunjung yang datang ke pusat perbelanjaan saat ini berada di kisaran 32 persen, bahkan ada yang mencapai 30 persen. "Ini sudah drop 8 persen dari sebelum PPKM yang trafiknya mencapai 40 persen.”

Berkurangnya trafik pengunjung ini berdampak tidak hanya pada tenant restoran, tetapi juga berdampak pada tenant lainnya, sehingga menyebabkan terjadinya pengurangan tenaga kerja.

"Kami harapkan sejalan dengan peningkiatan ekonomi dan juga keamanan kesehatan selama pandemi. Pusat belanja bukan klaster Covid. Kami itu pusat belanja terus jadi sasaran tembak. Di luar sana, resto mandiri boleh melakukan take away jam 24.00," tutur Ellen.

Menurutnya, restoran di pusat perbelanjaan telah menerapkan protokol kesehatan. Pihaknya tidak ingin pengunjung yang datang ke pusat perbelanjaan menjadi tidak tenang dan menjadi kurang sehat.

"Kami ingin pusat perbelanjaan bisa dibuka jam 21.00. Kalau jam 19.00, ini peak season makan jam 19.00 hingga jam 20.00 sehingga apabila tutup jam 19.00, last order jam 18.00 WIB," ucapnya. Hal ini menyebabkan customer terburu-buru sehingga enggan pergi ke pusat belanja.

Ellen menambahkan kondisi pandemi yang belum usai ini, lanjutnya, menyebabkan 15% tenant yang ada di pusat perbelanjaan memilih untuk tidak melanjutkan sewa kembali. Hal Ini terjadi kekosongan pusat belanja.

"Kami berharap adanya insentif pajak PPh dan juga diberikan keringan agar bisa nafas. 9 bulan pembatasan, kami harus berbgi pihak retailer untuk membebaskan uang sewa selama 6 bulan hingga 7 bulan. Kebijakan saat ini menyebabkan calon investor tenant menjadi ragu-ragu untuk investasi di mal," kata Ellen.

Diprediksi Terus Tertekan

Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengatakan sektor ritel masih mengalami tekanan pada 2021.

Hal itu dikarenakan bisnis ritel termasuk pusat perbelanjaan yang tentunya sangat bergantung pada mobilitas dan keramaian masyarakat pengunjungnya. Oleh karena itu, adanya PSBB sangat berdampak pada bisnis ritel. "Bisnis ritel akan bangkit kalau pandemi sudah terkendali dan vaksin sudah dilaksanakan."

Menurutnya, penurunan jumlah pengunjung yang datang ke mal berdampak pada peritel yang mulai meninggalkan toko-tokonya.

"Jadi, para peritel ini kekurangan trafik yang masuk ke mal, transaksi juga menurun, sehingga mereka ada juga yang tidak bisa bertahan dan itu juga akhirnya mempengaruhi tingkat hunian," ucapnya.

Dia menilai beberapa penyewa tenant di mal ini sudah sangat kritis sehingga sulit bertahan dengan kondisi dalam mal yang sangat berkurang. Hal itu dikarenakan masih rendahnya tingkat kunjungan dan daya beli, terlebih diberlakukannya kembali PSBB ketat ini akan semakin menekan tingkat penjualan.

"Apalagi kalau terus-terusan terjadi pandemi, kemungkinan banyak yang tidak mampu bertahan dan itu juga akan mempengaruhi sewa dari pusat perbelanjaan," tuturnya.

Tantangan sektor ritel tahun ini yakni pasok baru juga akan memberikan tekanan pada rerata tingkat hunian. Adapun tahun ini diperkirakan akan terdapat tambahan pasok baru tiga pusat perbelanjaan di Jakarta yang selesai dengan membawa 220.000 m2.

Ferry menuturkan sepanjang tahun lalu, total pasok kumulatif tercatat 4,83 juta meter persegi di Jakarta dari kontribusi 3 pusat perbelanjaan yang beroperasi pada awal 2020. Lalu total pasok kumulatif di luar Jakarta atau Bodetabek tercatat 2,84 juta m2.

Tingkat hunian ritel di Jakarta sepanjang tahun lalu sebesar 77,4 persen turun 2,5 persen yoy.  Di kawasan central business district (CBD) Jakarta saja, okupansi ritel pada 2020 anjlok menjadi 80,7 persen dari yang sebelumnya 83,5 persen pada 2019.

Selain itu, daerah lain yang menjadi salah satu wilayah dengan penurunan okupansi ritel yang cukup tinggi, yakni di Bogor yang penurunan tingkat okupansinya mencapai 20 persen. "Rerata hunian di Bodetabek turun 5 persen menjadi 73,8 persen," kata Ferry.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pusat perbelanjaan bisnis properti
Editor : M. Syahran W. Lubis

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top