Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tingkat Pengangguran Korea Selatan Tertinggi Dalam 10 Tahun

Tingkat pengangguran melonjak menjadi 4,6 persen, tertinggi sejak Januari 2010. Ekonom memperkirakan angkanya tidak berubah dari 4,1 persen pada November.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 13 Januari 2021  |  09:56 WIB
Polisi militer Angkatan Darat AS berpatroli di jalan di Itaewon, Seoul, Korea Selatan, pada Sabtu (9/5/2020) malam, ketika gelombang kedua infeksi virus corona berpotensi muncul, terkait dengan aktivitas kelab malam malam. - Bloomberg
Polisi militer Angkatan Darat AS berpatroli di jalan di Itaewon, Seoul, Korea Selatan, pada Sabtu (9/5/2020) malam, ketika gelombang kedua infeksi virus corona berpotensi muncul, terkait dengan aktivitas kelab malam malam. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Kehilangan pekerjaan di Korea Selatan mencapai tingkat tertinggi dalam dua dekade, melambungkan pengangguran ke puncaknya dalam 10 tahun. Pandemi virus Corona yang memburuk di negara itu memaksa bisnis untuk memangkas perekrutan.

Negara itu kehilangan 628.000 pekerjaan pada Desember 2020 dibandingkan dengan tahun sebelumnya, penurunan bulanan kesepuluh berturut-turut dan terbesar sejak Februari 1999.

Restoran dan hotel adalah yang paling terpukul, tetapi manfaktur juga kehilangan lebih dari 100.000 pekerjaan untuk bulan kedua, menandakan bahwa pemulihan dalam ekspor teknologi belum diterjemahkan ke dalam peningkatan lapangan kerja.

Tingkat pengangguran melonjak menjadi 4,6 persen, tertinggi sejak Januari 2010. Ekonom memperkirakan angkanya tidak berubah dari 4,1 persen pada November.

Pukulan di pasar pekerjaan mencerminkan pengetatan aturan jarak sosial setelah penghitungan infeksi harian Korea Selatan melonjak di atas 1.000 bulan lalu.

Jam kerja yang dibatasi untuk sebagian besar toko dan penutupan ruang karaoke serta bisnis lain di mana penyebaran penyakit lebih mungkin terjadi, telah merugikan pekerja di sektor jasa, terutama selama musim liburan.

"Tidak ada pesta minum akhir tahun dan tidak ada pengeluaran secara royal dan pekerja jasa kehilangan pekerjaan. Pembatasan sosial yang lebih ketat merugikan sektor-sektor yang biasanya mengalami perbaikan musiman,” kata ekonom An Young-jin dari SK Securities, dilansir Bloomberg, Rabu (13/1/2021).

Restoran dan hotel kehilangan 313.000 pekerjaan, kira-kira dua kali kerugian November. Pekerjaan di industri manufaktur turun sebesar 110.000 pekerja pada bulan tersebut, penurunan yang sedikit lebih kecil dari bulan sebelumnya, tetapi masih merupakan tanda yang mengkhawatirkan mengingat ketergantungan ekonomi pada ekspor dan pekerjaan pabrik.

"Manufaktur telah berada di bawah tekanan dari biaya tenaga kerja yang lebih besar bahkan sebelum Covid-19 dan virus hanya menambah masalah,” kata Sung Tae-yoon, seorang profesor ekonomi di Universitas Yonsei Seoul.

Dia mengatakan bahwa pemulihan ekspor tidak selalu berarti lebih banyak pekerjaan di sektor teknologi, yang telah mengotomatiskan sebagian besar manufakturnya.

Sementara itu sektor konstruksi terus mengalami peningkatan lapangan kerja hingga 23.000 orang.

Pemulihan ekspor Korea Selatan yang sedang berlangsung telah mendukung ekonomi secara lebih luas, tetapi prospek pasar kerja bergantung pada keberhasilan penanggulangan gelombang virus terbaru dan pelonggaran pembatasan. Jumlah infeksi baru di Korea Selatan telah turun menjadi sekitar 500 sehari baru-baru ini.

Untuk membantu perekonomian, pemerintah berencana memberikan bantuan tunai senilai 4,6 triliun won (US$4,2 miliar) kepada jutaan warga Korea Selatan sebelum liburan Tahun Baru Imlek bulan depan dan belanja fiskal di awal pada paruh pertama tahun ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

korea selatan pengangguran Virus Corona
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top