Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pasar Pelayaran Global Dibayangi Pemulihan Tidak Merata

Pandemi yang telah menghantam kegiatan ekonomi dan rantai pasokan, membuat pesanan kapal baru menjadi prioritas terendah bagi perusahaan. Hal ini menjadi warning bagi industri pelayaran pada 2021.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 11 Januari 2021  |  17:11 WIB
Polisi perairan memantau kapal CMA CGM Ottelo yang sandar di Jakarta International Container Terminal (JICT), Jakarta, Minggu (23/4). - Antara/Rosa Panggabean
Polisi perairan memantau kapal CMA CGM Ottelo yang sandar di Jakarta International Container Terminal (JICT), Jakarta, Minggu (23/4). - Antara/Rosa Panggabean

Bisnis.com, JAKARTA - Tahun lalu tidak diragukan lagi merupakan masa yang penuh tantangan bagi industri pelayaran global.

Dimulai dengan peraturan bahan bakar baru yang menimbulkan ketidakpastian di pasar, serta dampak perang dagang Amerika Serikat-China, pasar kemudian segera diambil alih oleh dampak pandemi.

Pemilik kapal harus membayar lebih untuk bahan bakar yang lebih bersih, memperbaiki kapal dengan scrubber pengurang polusi atau bahkan memesan kapal baru. Hal yang menambah ketidakpastian adalah pandemi Covid-19 yang telah mengganggu rantai pasokan dan menghentikan arus perdagangan.

S&P Global Platts dalam laporannya bertajuk "Changing Track" pada Oktober 2020 menyatakan faktor-faktor tersebut secara bersamaan menciptakan pergolakan dan ketidakpastian jangka panjang.

"2020 telah membuktikan bahwa tidak ada yang bisa dianggap remeh," tulis S&P Global Platts Shipping.

Sementara itu dilansir Bloomberg, Senin (11/1/2021), Kepala Penelitian di pialang kapal Banchero Costa & Co. Ralph Leszczynski mengatakan sektor pembuatan kapal kemungkinan akan tetap datar selama beberapa tahun ke depan, dengan kemungkinan kebangkitan selama delapan hingga 10 tahun.

"[Sebab saat itu] Kapal yang dibangun antara 2007 dan 2010 akan membutuhkan penggantian, karena sebagian besar memiliki umur sekitar 20 hingga 25 tahun," katanya.

Leszczynski juga mengatakan bahwa para pemilik kapal kekurangan uang untuk melakukan pembelian. Sebagian vesar pasar pelayaran berasal dari dekade yang relatif buruk, 2009 hingga 2019.

Dalam hal pendapatan, sebagian besar pemilik kapal tidak memiliki uang tunai yang dibutuhkan untuk membeli banyak armada baru. Pendanaan eksternal, lanjutnya, juga terbatas karena sebagian besar perbankan menghindari sektor pengapalan setelah gagal bayar 2008.

Sebut saja AP Moller-Maersk A/S, perusahaan peti kemas terbesar di dunia yang hanya memesan delapan kapal selama kuartal dua tahun lalu.

CEO Maersk Søren Skou pada paparan kinerja perusahaan November lalu mengatakan pihaknya sangat menyadari risiko teknologi untuk memesan kapal pada saat ini.

"Kami idealnya ingin mencari tahu, bahan bakar apa yang harus digunakan di masa depan dan kemudian mulai membangun kapal yang dapat didorong oleh jenis bahan bakar baru," katanya.

Rahul Kapoor, Kepala Analisis dan Penelitian Komoditas, Maritim dan Perdagangan IHS Markit, juga mengatakan pandemi yang telah menghantam kegiatan ekonomi dan rantai pasokan, membuat pesanan kapal baru menjadi prioritas terendah bagi perusahaan.

"Mereka berkonsentrasi hanya untuk mencoba mempertahankan margin keuntungan. Virus juga telah menunda penyelesaian proyek pembuatan kapal," katanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pelayaran perkapalan perang dagang AS vs China
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top