Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Tinggi Kedelai Akan Kerek Ekspor CPO Indonesia

Gangguan produksi di negara tetangga yang terjadi pada awal 2021 sebagai imbas La Nina, di sisi lain, bisa menjadi peluang bagi Indonesia.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 07 Januari 2021  |  18:09 WIB
Pekerja menata kelapa sawit saat panen di kawasan Kemang, Kabupaten Bogor, Minggu (30/8/2020). Badan Litbang Kementerian ESDM memulai kajian kelayakan pemanfaatan minyak nabati murni (crude palm oil/CPO) untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) hingga Desember 2020. Bisnis - Arief Hermawan P
Pekerja menata kelapa sawit saat panen di kawasan Kemang, Kabupaten Bogor, Minggu (30/8/2020). Badan Litbang Kementerian ESDM memulai kajian kelayakan pemanfaatan minyak nabati murni (crude palm oil/CPO) untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) hingga Desember 2020. Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Ekspor minyak sawit (CPO) Indonesia diprediksi menguat sepanjang kuartal I/2021 sebagai buntut dari tingginya harga kedelai global.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan masih terbatasnya pasokan kedelai dalam beberapa pekan ke depan dari pemasok utama seperti Argentina akibat kemarau yang dibawa La Nina akan mendorong negara-negara importir beralih ke minyak nabati lain yang lebih kompetitif.

“Harga kedelai yang tinggi secara tidak langsung akan ikut menopang harga CPO global. Hal ini disebabkan oleh proyeksi peralihan permintaan kepada CPO karena secara relatif, harga dari minyak kedelai lebih mahal. Peralihan ini akan ikut mendorong kenaikan volume ekspor CPO, terutama pada awal 2021,” kata Josua saat dihubungi, Kamis (7/1/2021).

Josua pun memperkirakan harga CPO stabil dan kuat sepanjang tahun sebagai imbas mandatori biodiesel yang dicanangkan pemerintah. Di sisi lain, peningkatan produksi dia sebut akan menjadi penghambat utama reli harga komoditas tersebut.

Analisis dari Oil World memperkirakan produksi CPO Indonesia akan bertambah sekitar 3,5 juta ton, sedangkan produksi di Malaysia naik tipis 400.000 ton pada 2021.

“Dengan proyeksi kenaikan volume serta harga CPO, diperkirakan ekspor Indonesia masih akan ditopang oleh komoditas ini pada 2021,” lanjut Josua.

Gangguan produksi di negara tetangga yang terjadi pada awal 2021 sebagai imbas La Nina, di sisi lain, bisa menjadi peluang bagi Indonesia. Josua mengatakan permintaan untuk CPO asal Indonesia bisa meningkat karena terbatasnya pasokan dari Malaysia. Permintaan dari India dan China bakal memainkan peran penting bagi serapan produksi Indonesia.

“Dengan proyeksi tersebut, produksi CPO Indonesia yang diproyeksikan naik akan mengalami lonjakan permintaan. Hal ini tentunya akan mendukung produsen CPO di Indonesia,” kata dia.

Meski prospek ekspor komoditas ini menjanjikan, tak semua produsen di Tanah Air langsung bergegas mengejar peningkatan ekspor. 

Senior Vice President of Corporate Communication & Public Affair PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) Tofan Mahdi mengatakan proyeksi harga CPO harus disikapi dengan hati-hati karena kondisi perekonomian belum sepenuhnya stabil.

“Apakah permintaan akan terus naik atau justru turun akan bergantung pada efektivitas penggunaan vaksin dalam mengatasi pandemi,” ujarnya kepada Bisnis.

Tofan mengatakan perusahaan bakal tetap mencari pasar-pasar potensial untuk digarap mengingat 60 persen produksi CPO diekspor ke luar negeri. Adapun destinasi utama ekspor AALI mencakup China, India, Pakistan, Bangladesh, Filipina, Korea Selatan, Kenya, dan Singapura.

“Kami tetap melihat pasar-pasar potensial yang bisa digarap, baik itu pasar ekspor maupun domestik,” kata Tofan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

malaysia ekspor cpo harga cpo
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top