Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Industri Alas Kaki Kecewa Basis Data Kemenperin

Pelaku industri alas kaki menyayangkan basis data yang dimiliki Kementerian Perindustrian (Kemenperin) karena dinilai tidak sesuai dengan kondisi riil yang terjadi pada kinerja tahun ini.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 30 Desember 2020  |  15:15 WIB
Aktivitas di pabrik sepatu di Tangerang, Banten./Antara - Akbar Nugroho Gumay
Aktivitas di pabrik sepatu di Tangerang, Banten./Antara - Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku industri alas kaki menyayangkan basis data yang dimiliki Kementerian Perindustrian (Kemenperin) karena dinilai tidak sesuai dengan kondisi riil yang terjadi pada kinerja tahun ini.

Adapun dalam pertemuan akhir tahun, Kemnperin mencatatkan proyeksi pertumbuhan industri alas kaki, kulit, dan barang dari kulit pada tahun ini akan minus hingga 10,21 persen.

Namun, tahun depan sektor ini akan terakselerasi pertumbuhannya mencpai 8,20 persen. Angka itu bahkan capaian tertinggi setelah sektor pemasangan dan peralatan mesin.

Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Firman Bakrie mengatakan dirinnya khawatir data tersebut dipolitisasi sebab angka proyeksi pada tahun ini tercatat sangat buruk sekali. Sementara dari kinerja ekspor hingga November 2020 industri masih mencatatkan pertumbuhan hingga 7 persen.

"Nilai keekonomisan ekspor ini jauh lebih besar dari domestik yang hanya 20-30 persen. Pelaku industri alas kaki juga masih optimistis akan kinerja tahun ini sehingga jika pun turun karena penjualan domestik maka ekspor masih bisa menutupi dan tidak aka terjatuh sejauh minus 10 persen tadi," katanya kepada Bisnis, Rabu (30/12/2020).

Firman menyebut pihaknya sudah pernah menyampaikan komplain terkait data persepatuan tersebut. Namun, hingga kini belum ada keterbukaan yang bisa menjelaskan tercapainya angka-angka proyeksi itu.

Menurut Firman, penting sekali untuk segera melakukan pembenahan data karena akan digunakan sebagai acuan pengambilan kebijakan. Pasalnya, jika basis data saja sudah keliru maka upaya untuk mendorong industri tidak akan maksimal.

"Soal data ini krusial jangan sampai dipolitisasi sehingga hilir dihambat dan berdampak pada kinerja ekspor. Jangan sampai seolah-olah industri kita mengalami keterburukan yang berakibat dipersulit impor mendapatkan bahan bakunya," ujar Firman.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

data kinerja manufaktur
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top