Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

APR Dorong Peta Jalan Industri TPT, Rantai Pasok Jadi Fokus

PT Asia Pacific Rayon (APR) mengajak agar seluruh pelaku industri tekstil dan produk tekstil (TPT) berkontribusi dalam pembuatan peta jalan industri TPT. APR mengusulkan agar rantai pasok berkelanjutan menjadi fokus peta jalan tersebut.
Pabrik serat rayon. Produksi serat rayon Indonesia pada 2019 menembus level 700.00 ton, tapi konsumsi rayon baru mencapai 419.784 atau 25 persen dari total konsumsi serat 2019. /Bloomberg
Pabrik serat rayon. Produksi serat rayon Indonesia pada 2019 menembus level 700.00 ton, tapi konsumsi rayon baru mencapai 419.784 atau 25 persen dari total konsumsi serat 2019. /Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - PT Asia Pacific Rayon (APR) mengajak agar seluruh pelaku industri tekstil dan produk tekstil (TPT) berkontribusi dalam pembuatan peta jalan industri TPT. APR mengusulkan agar rantai pasok berkelanjutan menjadi fokus peta jalan tersebut.

Direktur PT Asia Pacific Rayon (APR) Basrie Kamba mengatakan era keterbukaan informasi memaksa pabrikan harus menjalankan prinsip keberlanjutan dalam seluruh rangkaian produksi maupun rantai pasok. Basrie tidak menafikkan prinsip rantai pasok berkelanjutan akan memakan investasi yang cukup tinggi.

"Akan tetapi kita tidak punya pilihan. Masa depan industri TPT begini nasibnya. Konsumen sekarang tidak lagi [hanya] melihat asal negara produsen, tapi siapa produsennya dan bagaimana proses pembuatannya," ucapnya dalam webinar "Simposium Towards Responsible Supply Chain", Kamis (26/11/2020).

Basrie menyatakan salah satu cara yang diterapkan pihaknya adalah meletakkan QR Code pada label garmen yang menggunakan serat APR. Basrie menilai industri hulu memegang kepentingan besar terkait prinsip keberlanjutan pada industri TPT nasional.

Basrie mengusulkan agar pemerintah menggenjot konsumsi rayon di dalam negeri. Basrie mencatat konsumsi serat rayon di dalam negeri cenderung stagnan di kisaran 300.000-400.000 ton per tahun, kecuali pada 2017, selama 2014-2019.

Adapun, produksi serat rayon pada 2019 menembus level 700.00 ton, tapi konsumsi rayon baru mencapai 419.784 atau 25 persen dari total konsumsi serat 2019. Alhasil, kelebihan produksi tersebut dialokasikan pada pasar global sekitar 300.000 ton.

Adapun, konsumsi serat pada 2019 masih didominasi oleh kapas hingga 36 persen atau 590.198 ton. Namun demikian, konsumsi serat polyester tidak jauh berbeda, yakni sebesar 35 persen atau 581.237 ton.

"Kami dan tiga kawan yang lain sudah cukup besar [kapasitas terpasangnya atau sekitar] 850.000 ton per tahun, [tapi] konsumsi masih 400.000 tin. Ini yang bisa dimaksimalkan," ucapnya.

Basrie menyatakan salah satu langkah yang dilakukan pihaknya dalam menggenjot konsumsi rayon nasional adalah mendirikan semacam komunitas, yakni Jakarta Fashion Hub. Adapun, APR mengedukasi desainer terkait dengan karakteristik serat rayon.

Basrie menyatakan komunitas tersebut juga dapat memesan kain dengan jumlah kecil. Seperti diketahui, pemesanan minimum kain oleh industri kecil dan menengah (IKM) merupakan masalah yang belum terselesaikan dalam industri TPT.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Andi M. Arief
Editor : Fatkhul Maskur
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper