Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Duh, Trump Larang Ekspor Teknologi ke 89 Perusahaan China

Daftar AS muncul setelah Trump awal bulan ini menandatangani perintah yang melarang investasi Amerika di perusahaan China yang dimiliki atau dikendalikan oleh militer, karena dia meningkatkan tekanan terhadap Beijing di bulan-bulan terakhir masa jabatannya.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 23 November 2020  |  15:04 WIB
Presiden Donald Trump saat hendak terbang bersama Air Force One meninggalkan Florida untuk berkampanye di North Carolina, Pennsylvania, Michigan dan Wisconsin, di Bandara Internasional Miami International, Florida, AS, 2 November 2020. - Antara/Reuters\r\n
Presiden Donald Trump saat hendak terbang bersama Air Force One meninggalkan Florida untuk berkampanye di North Carolina, Pennsylvania, Michigan dan Wisconsin, di Bandara Internasional Miami International, Florida, AS, 2 November 2020. - Antara/Reuters\\r\\n

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintahan Trump dilaporkan segera mengeluarkan daftar 89 perusahaan China termasuk kedirgantaraan, yang tidak dapat mengakses ekspor teknologi AS karena hubungan militer yang menegang.

Dilansir Bloomberg, Senin (23/11/2020), langkah itu dapat semakin meningkatkan ketegangan ketika Joe Biden bersiap untuk mengambil alih pemerintahan.

Seorang juru bicara Departemen Perdagangan AS menolak berkomentar. Mengutip salinan draf daftar dari Departemen Perdagangan AS, Commercial Aircraft Corp. of China Ltd. (Comac) dan Aviation Industry Corp. of China Ltd. (Avic) termasuk di antara perusahaan-perusahaan yang disebutkan. Deklarasi semacam itu akan membatasi perusahaan untuk membeli barang dan teknologi AS.

Avic adalah perusahaan pelat merah China dengan lebih dari 100 anak perusahaan dan lebih dari 450.000 karyawan. Pemerintahan Trump pada Juni lalu memasukkan Avic ke dalam daftar perusahaan yang dicurigai dikendalikan atau dimiliki oleh Tentara Pembebasan Rakyat China. Perusahaan itu juga menjalankan bisnis sipil yang membuat pesawat terbang dan jet pribadi, beberapa dibuat dengan suku cadang yang dibuat oleh usaha patungan dengan perusahaan Amerika.

Sementara itu Comac juga merupakan BUMN yang memproduksi pesawat untuk maskapai besar China sebagai alternatif produsen besar seperti Boeing Co. dan Airbus SE. Perusahaan ini memproduksi model lorong tunggal yang dirancang untuk menyaingi Boeing 737 dan Airbus A320.

Dalam perkiraan terbaru tentang pasar penerbangan komersial China, Boeing mengatakan maskapai penerbangan negara tersebut kemungkinan akan membeli 8.600 pesawat baru selama 20 tahun ke depan dengan total US$1,4 triliun.

Satu perusahaan yang sangat berisiko terganggu kebijakan baru Trump yakni General Electric Co., pemasok Comac. Untuk pesawat berbadan sempit C919 yang sekarang dalam pengujian, Comac menggunakan mesin dari CFM International, sebuah usaha patungan antara General Electric (GE) dan Safran SA Prancis.

Pada Februari lalu, Trump berupaya menggagalkan penjualan mesin tersebut.

GE juga memiliki eksposur melalui Aviage Systems, usaha patungan 50-50 dengan Avic. Pesawat C919 memiliki peralatan buatan Aviage seperti sistem perekaman penerbangan, manajemen penerbangan, dan pemeliharaan di dalam pesawat.

Daftar AS muncul setelah Trump awal bulan ini menandatangani perintah yang melarang investasi Amerika di perusahaan China yang dimiliki atau dikendalikan oleh militer, karena dia meningkatkan tekanan terhadap Beijing di bulan-bulan terakhir masa jabatannya.

Komisi Sekuritas dan Bursa AS mendorong rencana untuk mengeluarkan perusahaan China dari bursa saham AS. Peraturan akan diusulkan pada akhir tahun dan akan menyebabkan penghapusan daftar perusahaan karena tidak mematuhi aturan audit AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor teknologi Donald Trump
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top