Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Rizal Ramli Sindir 'Pengemis Utang Bilateral', Ini Jawaban Staf Ahli Menkeu

Staf Khusus Menkeu Bidang Komunikasi Strategis Yustinus Prastowo mengklarifikasi bahwa pinjaman dari Australia dan Jerman tidak diperoleh RI dari mengemis.
Oktaviano DB Hana
Oktaviano DB Hana - Bisnis.com 20 November 2020  |  21:41 WIB
Staf Ahli Menteri Keuangan yang juga Founder Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo (kiri), di Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan
Staf Ahli Menteri Keuangan yang juga Founder Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo (kiri), di Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Staf Khusus Menkeu Bidang Komunikasi Strategis Yustinus Prastowo memberikan jawaban kepada Rizal Ramli yang sebelumnya bertanya kepada Presiden Joko Widodo, terkait arah kebijakan RO, khususnya terkait utang dan bunga utang negara.

Jawaban itu dilayangkan Yustinus melalui akun Twitter resminya, @prastow, Jumat (20/11/2020). Menurutnya, imbal hasil atau yield dari utang Indonesia justru turun dari 7,03 persen pada awal tahun menjadi 6,15 persen pada November 2020.

Dia juga mengklarifikasi bahwa pinjaman dari Australia dan Jerman tidak diperoleh RI dari mengemis, melainkan sebagai wujud persahabatan antarnegara, terutama di tengah pandemi Covid-19. Hal itu didukung fakta bahwa pinjaman itu bertenor panjang dan bunganya rendah.

"Meski diblok, saya jawab Bang Rizal Ramli: Yield atau bunga utang kita justru turun, dari 7,03% di awal tahun menjadi 6,15% di Nov 2020. Ngemis? Pinjaman Australia dan Jerman itu wujud persahabatan dan solidaritas tangani pandemi, maka tenornya panjang dan bunga rendah," demikian cuitan Yustinus Prastowo.

Hingga berita ini diturunkan, postingan Yustinus Prastowo itu disukai oleh 246 pengguna Twitter dan mendapatkan balasan 36 kali dan dikutip ulang (Retweet) 105 kali.

Sebelumnya Rizal Ramli, melalui akun Twitter resminya, @RamliRizal, mengajukan pertanyaan itu kepada presiden. Menurutnya, bunga utang negara semakin mahal.

Hal itu, jelasnya, terbukti denganlangkah RI membayar bunga utang melalui pinjaman atau utang baru. Dia menuding strategi pinjaman itu sebagai 'pengemis utang bilateral'. 

"Mas @jokowi, mau dibawa kemana RI ? Surat utang bunganya semakin mahal. Untuk bayar bunga utang saja, harus ngutang lagi. Makin parah. Makanya mulai ganti strategi jadi “pengemis utang bilateral” dari satu negara ke negara lain,, itupun dapatnya recehan itu yg bikin ‘shock’.," demikian tulisan Rizal Ramli di Twitter.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jokowi kemenkeu sri mulyani rizal ramli
Editor : Oktaviano DB Hana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top