Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Impor Bahan Baku Kembali Terkontraksi, Manufaktur Belum Pede?

Neraca dagang dengan surplus besar dipekirakan menjadi indikasi awal bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV masih akan tumbuh negatif.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 16 November 2020  |  17:10 WIB
Aktivitas karyawan di salah satu pabrik di Jakarta, Jumat (20/9/2019). Bisnis - Arief Hermawan P
Aktivitas karyawan di salah satu pabrik di Jakarta, Jumat (20/9/2019). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja impor Indonesia kembali mengalami kontraksi yang cukup dalam pada Oktober setelah sempat naik 7,71 persen pada September secara bulanan. Impor tercatat turun 6,79 persen pada Oktober dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Penurunan impor terjadi di seluruh kelompok penggunaan barang. Impor barang modal tercatat turun paling dalam yakni sebesar 13,33 persen secara bulanan. Disusul oleh penurunan impor barang konsumsi sebesar 7,58 persen dan bahan baku atau penolong yang terkoreksi 5,0 persen.

Turunnya kinerja impor ini sejalan dengan kondisi manufaktur pada Oktober yang masih berada di level kontraksi. PMI manufaktur Indonesia pada bulan tersebut masih berada di level 47,8 poin, naik tipis dibandingkan dengan posisi September 47,2 poin.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan impor nonmigas, terutama kelompok bahan baku yang masih rendah terjadi lantaran kapasitas produksi yang belum membaik secara signifikan. Hal ini turut merefleksikan bahwa sisi permintaan masih lemah.

“Permintaan yang masih cenderung lemah tersebut terindikasi dari Indeks Kepercayaan Konsumen bulan Oktober yang justru menurun sementara penjualan ritel bulan Oktober diperkirakan juga masih terkontraksi sekitar 10 persen yoy,” kata Josua, Senin (16/11/2020).

Secara keseluruhan, dia memperkirakan kinerja manufaktur pada kuartal IV 2020 belum akan membaik secara signifikan karena keyakinan konsumen yang belum pulih meskipun mobilitas masyarakat terus meningkat.

Lebih lanjut, dia mengatakan neraca dagang dengan surplus besar menjadi indikasi awal bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV masih akan tumbuh negatif.

“Kinerja impor yang masih lemah menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi domestik cenderung masih tertahan,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bidang Hubungan Internasional Shinta W. Kamdani mengatakan tertahannya impor kebutuhan manufaktur terjadi lantaran ketidakpastian global yang dihadapi pelaku usaha.

Permintaan domestik yang belum pulih ditambah dengan situasi technical recession kian menahan aktivitas manufaktur di dalam negeri. 

“Namun, kami tetap optimistis kinerja ekonomi nasional akan tetap positif hingga akhir tahun. Semoga saja tidak ada kendala lainnya yang mengganggu stabilitas atau upaya pengendalian pandemi atau perbaikan iklim usaha dan investasi di Indonesia,” kata Shinta.

Juru Bicara Kementerian Perdagangan Fithra Faisal Hastiadi mengatakan terdapat sejumlah alasan yang menyebabkan impor pada Oktober mengalami penurunan.

Pertama, inventori industri diperkirakan masih tersedia untuk aktivitas produksi sehingga pelaku usaha menahan pemasukan. Fithra memperkirakan impor bahan baku atau penolong atau modal bisa kembali naik pada November atau Desember tahun ini.

“Pertama dari sisi inventori, kita tahu pada September ada kenaikan impor bahan baku dan modal. Stok yang masih tersedia dan demand yang masih belum pulih menyebabkan impor pada Oktober turun,” kata Fithra.

Meski demikian, dia meyakini kondisi perekonomian masih dalam koridor perbaikan yang berlanjut. Hal ini setidaknya tecermin dari ekspor olahan industri yang mencatatkan kenaikan. Di sisi lain, ekspor secara bulanan telah tumbuh secara bertahap dalam 6 bulan terakhir.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Neraca Perdagangan impor bahan baku
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top