Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Agresif Dobrak Pasar, Manufaktur Sumbang Ekspor Terbesar

Ekspor industri pengolahan sepanjang Januari-September 2020 sebesar US$94,36 miliar. Capaian ini dinilai menunjukkan sektor manufaktur memberikan sumbangsih paling besar terhadap total nilai ekspor nasional.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 23 Oktober 2020  |  14:10 WIB
Pekerja memindahkan semen Tonasa (Semen Indonesia Group) ke atas kapal di Pelabuhan Paotere, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (10/6). - Bisnis/Paulus Tandi Bone
Pekerja memindahkan semen Tonasa (Semen Indonesia Group) ke atas kapal di Pelabuhan Paotere, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (10/6). - Bisnis/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA — Ekspor industri pengolahan sepanjang Januari-September 2020 sebesar US$94,36 miliar. Capaian ini dinilai menunjukkan sektor manufaktur memberikan sumbangsih paling besar terhadap total nilai ekspor nasional.

“Artinya, sektor industri kita tetap agresif mendobrak pasar internasional di tengah masa yang sulit karena dampak pandemi Covid-19,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Perindustrian R. Janu Suryanto melalui siaran pers, Jumat (23/10/2020).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia pada Januari–September 2020 berada di angka US$117,19 miliar. Sementara kontribusi nilai pengapalan dari sektor industri pengolahan menembus 80,5 persen.

Neraca perdagangan industri pengolahan pada periode Januari-September 2020 adalah surplus sebesar US$8,87 miliar. Adapun kinerja yang baik oleh industri makanan dengan nilai ekspornya mencapai US$21,31 miliar atau naik 10,5 persen dibanding periode yang sama 2019.

Selanjutnya, diikuti industri logam dasar yang mencatatkan nilai ekspornya sebesar US$16,96 miliar atau naik 30,7 persen dari capaian di periode yang sama tahun lalu. Kemudian, nilai ekspor industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia melebihi US$9 miliar.

Sementara itu, angka pengapalan industri tekstil dan pakaian jadi menembus US$8 miliar, serta industri kertas dan barang dari kertas mencatatkan nilai ekspor hingga US$5,16 miliar.

“Pada Januari-September 2020 ini, ada sejumlah sektor industri yang kinerja ekspornya naik signifikan dari tahun lalu,” ujar Janu.

Sektor yang mengalami pertumbuhan ekspornya positif di atas 10 persen, antara lain adalah industri pencetakan dan reproduksi media rekaman dengan nilai ekspor sebesar US$29,78 juta (naik 27,8 persen).

Kemudian, industri furnitur yang nilai ekspornya US$1,59 miliar (naik 15,2 persen), serta industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional dengan nilai ekspor mencapai US$484,79 juta (naik 10,1 persen).

Janu memaparkan, kinerja ekspor industri pengolahan pada bulan September 2020 mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya (m-to-m). Untuk neraca perdagangan industri pengolahan pada September 2020 juga mencatatkan surplus, dengan nilai US$2,04 miliar.

Nilai ekspor industri pengolahan pada September 2020 tercatat sebesar US$11,56 miliar, naik sebesar 7,3 persen dari Agustus 2020 (m-to-m) yang mencapai US$10,77 miliar. Apabila dibandingkan dengan September 2019 (year-on-year), kinerja ekspor industri pengolahan September 2020 naik hingga 6,6 persen.

“Pada September 2020, China menjadi negara tujuan ekspor utama industri pengolahan dari Indonesia, diikuti Amerika Serikat, Jepang, Singapura, dan India,” kata Janu.

Guna memperluas akses pasar ekspor bagi industri, Kemenperin terus mendorong kerja sama yang komprehensif dengan beberapa negara potensial dan nontradisional.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pemerintah sedang memprioritaskan pengembangan sektor industri berorientasi ekspor. Upaya strategis ini dinilai akan membenahi masalah struktural ekonomi saat ini, yaitu defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan.

“Kita ketahui, kontribusi sektor industri manufaktur hingga saat ini masih mendominasi terhadap capaian nilai ekspor nasional. Jadi, ini merupakan salah satu poin bagi pemerintah untuk memberikan perhatian khusus pada pengembangan sektor industri manufaktur,” jelasnya.

Dalam hal ini, Kemenperin sudah memetakan 15 sektor yang akan mendapat prioritas pengembangan untuk digenjot kinerja ekspornya. Ke-15 sektor tersebut, yakni industri pengolahan minyak kelapa sawit dan turunannya, industri makanan, industri kertas dan barang dari kertas, industri crumb rubber, ban, dan sarung tangan karet, industri kayu dan barang dari kayu, serta industri tekstil dan produk tekstil.

Selanjutnya, industri alas kaki, industri kosmetik, sabun, dan bahan pembersih, industri kendaraan bermotor roda empat, industri kabel listrik, industri pipa dan sambungan pipa dari besi, industri alat mesin pertanian, industri elektronika konsumsi, industri perhiasan, serta industri kerajinan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kinerja manufaktur Ekspor Manufaktur
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top