Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

APBI Pesan Agar Waspada Tawaran Investasi Pabrik Ban dari China, Ada Apa?

Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia (APBI) mengingatkan pemerintah untuk waspada terkait penawaran investasi ke industri ban dari China.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 22 Oktober 2020  |  18:49 WIB
Aktivitas pekerja di pabrik ban PT Gajah Tunggal Tbk. Hanya ada dua produsen ban radial di Indonesia, yakni PT Hankook Tire Indonesia dan PT Gajah Tunggal Tbk.  - gt/tires.com
Aktivitas pekerja di pabrik ban PT Gajah Tunggal Tbk. Hanya ada dua produsen ban radial di Indonesia, yakni PT Hankook Tire Indonesia dan PT Gajah Tunggal Tbk. - gt/tires.com

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia (APBI) mengingatkan pemerintah untuk waspada terkait penawaran investasi ke industri ban dari China.

Ketua Umum APBI Azis Pane menyatakan investasi dalam bentuk relokasi pabrikan China ke Indonesia merupakan strategi untuk menghindari perang dagang Amerika Serikat-China. Namun, Azis menduga relokasi tersebut merupakan kedok pabrikan ban China untuk melakukan modus transhipment dalam proses ekspor ban ke Amerika Serikat.

"Begitu BKPM [Badan Koordinasi Penanaman Modal] bikin persetujuan, nanti diimpornya [ban] dari China melalui Singapura. Nanti dia tempel [label] made in Indonesia [baru diekspor ke Amerika Serikat]," katanya kepada Bisnis,  Kamis (22/10/2020).

Seperti diketahui, portofolio produksi industri ban nasional masih kekurangan satu jenis ban, yakni ban radial untuk bus dan truk. Kementerian Perindustrian mendata permintaan ban tersebut mencapai sekitar 3 juta unit per tahun, sedangkan kapasitas produksi lokal hanya sekitar 250.000 unit per tahun.

Dalam catatan Bisnis, hanya ada dua produsen ban radial, yakni PT Hankook Tire Indonesia dan PT Gajah Tunggal Tbk. APBI mencatat kapasitas gabungan produksi ban radial bus dan truk kedua perusahaan tersebut hanya 250.000 unit per tahun, sedangkan kebutuhan nasional mencapai 3 juta unit.

Seperti diketahui, konstruksi ban radial menggunakan lapisan serat baja yang membuat area kontak permukaan ban radial dengan jalan terdistribusi dengan baik, hal ini akan menghasilkan gesekan yang merata pada permukaan ban. Sehingga usia pakai bisa lebih lama.

Dekarindo mendata volume impor ban bus dan truk melonjak 93,67% pada 2018 secara tahunan menjadi 132.995 ton dari 68.668 ton. Tingginya impor ban bus dan truk tersebut disebabkan kemampuan pabrikan dalam negeri yang baru mampu memproduksi sekitar 8% dari kebutuhan pasar atau sekitar 250.000 pasang.

Adapun, volume impor ban bus dan truk pada 2019 hanya mencapai 79.393 ton atau lebih rendah 40,3 persen dari realisasi 2018. Namun demikian, nilai impor ban bus dan truk masih belum turun ke bawah level US$200 juta.

Direktur Industri Kimia Hilir dan Farmasi Kemenperin Muhammad Taufik berujar sejauh ini telah ada dua pabrikan global yang telah menyampaikan intensi investasi pabrik ban radial bus dan truk pada Kemenperin, yakni Aeolus Tyre Co. Ltd dari China dan Madras Rubber Factory (MRS) Ltd. dari India. Taufik menilai kedua pabrikan tersebut telah memiliki pasar yang besar di negaranya masing-masing.

"[Namun demikian] kami mengharapkan dan mendorong supaya ada industri di dalam negeri [berinvestasi untuk memproduksi ban radial bus dan truk] karena pasarnya besar," ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pabrik ban relokasi pabrik
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top